Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller

Sahabat-sahabat saya penulis di AndaLuarBiasa.com. Dari kiri ke kanan: Edy Zaqeus, Sulmin Gumiri, Aleysius H. Gondosari, Gagan Gartika, Agung Praptapa, Relon Star, Iftida Yasar, Avanti Fontana, Risfan Munir, Anang YB, & Andrias Harefa. Mereka memberi kontribusi untuk republik ini melalui tulisan. Salut!

“Seorang penulis yang unggul dan berhasil haruslah seorang pemasar yang ulung pula. Dia harus mampu menjual gagasan-gagasannya dan mendapatkan benefit terbesar dari proses tersebut.”

Edy Zaqeus

(Penulis Buku Best Seller)

 Melalui teknik-teknik yang telah kita bahas dalam keseluruhan bab di muka, saya berasumsi bahwa menulis buku itu tidak sulit. Tetapi perlu dicatat, tugas seorang penulis buku belumlah selesai setelah draft naskah buku berhasil dirampungkan. Penulis masih harus berjuang agar naskahnya dapat diterbitkan oleh penerbit yang dia pilih. Apabila sudah ada penerbit yang bersedia menerbitkan naskahnya, tugas penulis juga belum selesai. Jika ingin bukunya sukses di pasaran, penulis harus melakukan aktivitas-aktivitas tambahan yang sifatnya memberikan dampak promosional yang kuat terhadap bukunya.

Anggapan lama menyatakan, penerbit adalah pihak yang paling bertanggung jawab terhadap sukses tidaknya sebuah judul yang diterbitkan. Di tengah-tengah persaingan antar penerbit dan penulis yang begitu ketat, serta semakin banyaknya judul buku yang diterbitkan setiap tahun, anggapan itu tidak strategis lagi. Saat ini, eranya adalah era kerjasama yang sinergis antara penulis buku dengan penerbit. Jadi, penulis harus ikut aktif melakukan aktivitas-aktivitas atas inisiatif sendiri maupun bersinergi dengan penerbit untuk mempromosikan bukunya. Saya akan bahas masalah ini lebih mendalam pada kesempatan lain, yaitu di buku saya berikutnya.

Saya kurang sepaham dengan pendapat lama yang menyatakan, penulis itu tugasnya ya hanya menulis, kalau menjual itu tugasnya penerbit. Menurut saya, seorang penulis yang unggul dan berhasil haruslah seorang pemasar yang ulung pula. Dia harus mampu menjual gagasan-gagasannya dan mendapatkan benefit terbesar dari proses tersebut. Seperti saya singgung di awal, seorang penulis memang harus punya sense of marketing. Dia harus kreatif dalam mencari celah-celah dan peluang untuk mempromosikan atau “menjual” bukunya.

Saya teringat ucapan-ucapan Robert T. Kiyosaki dalam sebuah kaset yang menjelaskan resep sukses buku Rich Dad Poor Dad. Dalam sebuah wawancara, Kiyosaki ditanya wartawan, apa sesungguhnya yang membuat bukunya laris. Kiyosaki menjawab bahwa dirinya bukan penulis yang bagus. “Banyak orang lain menulis lebih bagus. Anda wartawan mungkin dapat menulis jauh lebih bagus dari saya,” begitu kira-kira ucapan Kiyosaki. “Yang membedakan saya dengan penulis lainnya, saya tahu bagaimana menjual buku. Saya tahu sistem menjual buku,” lanjut Kiyosaki.

Memang, kita tidak perlu anti dengan kata “menjual” di sini. Sebab, setelah naskah jadi buku, ia adalah sebuah produk yang harus diperlakukan sebagaimana produk-produk lain. Produk itu harus berjuang untuk memenangkan persaingan di pasar. Mungkin hampir sama dengan Kiyosaki, contoh-contoh penulis buku best seller  di buku ini sebagian di antaranya adalah para penulis sangat confidence dengan produknya, kreatif mencari peluang, serta berani dan mampu menjual sendiri bukunya. Itu sebabnya mereka sukses sebagai penulis buku-buku best seller.

Kebetulan saya menyaksikan dari dekat bagaimana Andrie Wongso memperlakukan produknya yang berjudul 15 Wisdom & Success. Sebelum buku itu terbit, dia sudah aktif mempromosikannya di berbagai kesempatan, seperti saat siaran di radio dan seminar-seminar. Begitu buku terbit dan beredar, penerbitnya juga giat melakukan upaya-upaya promosional. Hebatnya, sebagai penulis Andrie malah berani bergerak jauh lebih aktif untuk berpromosi. Salah satunya dengan membuat edisi hard cover khusus untuk para relasi dan kepentingan promosional lainnya. Buku non fiksi yang pertama dicetak 8.000 eksemplar itu pun jadi best seller dan cetak ulang untuk keempat kalinya dalam dua bulan peredarannya. Kurang dari tiga bulan, penulisnya sendiri berhasil menjual lebih dari 3.000 eksemplar dalam forum-forum seminar dan toko buku yang dimilikinya. Luar biasa bukan?

Pada saat buku ini ditulis, beberapa pembicara publik juga sedang menulis buku. Salah satunya adalah Tung Desem Waringin, pembicara yang dikenal dengan produk-produk seminarnya seperti Sales Magic, Life Revolution, dan Financial Revolution. Saat bukunya sedang diproses oleh penerbit, jauh-jauh hari dia sudah gencar berpromosi melalui berbagai saluran seperti iklan, seminar, brosur-brosur, dan siaran di radio. Tung menerapkan betul semua jurus-jurus pemasaran yang dikuasainya untuk menarik minat calon pembeli. Misalnya, memberikan bonus CD dan seminar gratis bagi mereka yang mau membeli buku itu secara inden. Dilihat dari cara dia memperlakukan bukunya serta kuatnya personal brand yang dia miliki, saya perkirakan buku itu akan jadi best seller seperti halnya buku Andrie Wongso.

Satu hal yang ingin saya tekankan ulang. Seringkali gagasan-gagasan atau konsep-konsep hidup kita itu mewarnai berbagai perwujudan karya kita, baik yang bersifat tulisan, verbal, bahkan termasuk sikap dan tindakan. Semuanya berproses, menjadi semakin matang dan mengkristal. Lama kelamaan, ide-ide dasar yang berserakan akan makin detail dan jelas bentuknya. Dan mungkin saja, saat itulah kita mendapat panggilan jiwa untuk mewujudkannya dalam bentuk sebuah buku.

Jadi, betapa pun sederhananya tulisan yang bisa kita hasilkan sebagai hasil olah ide, kita tidak perlu berkecil hati. Entah tulisan itu berbentuk pointers, outline, rangkuman masalah, surat, naskah pidato, makalah, presentasi, laporan, transkrip wawancara atau ceramah, artikel opini, esai, dan segala macam bentuk penuangan gagasan melalui tulisan. Itu semua adalah harta intelektual yang tak ternilai harganya. Kita harus mendokumentasikannya dengan sebaik dan serapi mungkin. Percayalah, akan tiba saatnya peti harta karun itu terbuka dan memberikan banyak manfaat bagi kita.

Seperti saya ungkap sebelumnya, sebuah ide bisa begitu memikat dan menyedot antusiasme kita. Namun jika ide itu hanya dibiarkan menjadi ide, dan kita tidak pernah berani mencoba mewujudkannya, sesungguhnya ide itu nyaris tidak ada harganya. Begitu juga dengan ide-ide buku yang sudah kita hasilkan saat ini. Jika kita tidak segera mengambil langkah menuliskannya, bersiaplah untuk kehilangan kekayaan intelektual tersebut. Jangan heran kalau tidak terlalu lama kemudian muncul buku dengan tema persis seperti yang kita gagas sebelumnya. Bedanya, penulisnya bukan kita melainkan orang lain yang lebih sigap dan berani menulis buku.

Buku bisa berfungsi sebagai prasasti bagi perjalanan hidup dan karya kita. Buku bisa menjadi jembatan komunikasi antara kita dengan khalayak ramai. Di masa mendatang, buku bisa menjembatani pemahaman antar generasi, menjadi media dialog, bertukar pikiran, termasuk alat untuk mencatat sejarah dan mewariskan gagasan-gagasan maupun visi-visi kita. Buku dapat berperan bak sebuah monumen yang memberitahukan kepada orang lain, siapakah diri kita sebenarnya. Dan jangan lupa, sebuah ide yang mewujud dalam bentuk buku mungkin dapat mengubah total kehidupan kita.

Tujuh tahun terakhir, dunia perbukuan di Indonesia saat ini tengah mengalami kegairahan yang luar biasa. Para pengarang atau penulis buku makin bebas berekspresi dan menuliskan pemikirannya. Ratusan judul buku terbit setiap bulannya, penerbit-penerbit baru bermunculan, dan kegairahan masyarakat untuk membaca pun jauh lebih marak dari yang diperkirakan semula. Banyak penerbit dan penulis-penulis baru yang jeli memanfaatkan peluang dan mau bekerja keras, akhirnya berhasil menangguk sukses dari iklim yang terus bergairah ini.

Anggaplah kegairahan dunia perbukuan saat ini seperti “sarapan pagi”. Sebagian porsinya telah dinikmati oleh sejumlah penulis, penerbit, toko buku, dan distributor yang jeli melihat peluang. Namun kita tidak perlu khawatir dan menganggap diri kita telah ketinggalan kereta. Porsi “sarapan pagi” itu masih berlimpah. Demikian juga porsi “makan siang”-nya, dan terlebih lagi porsi “makan malam” yang sama sekali belum tersentuh. Jadi, kesempatan untuk bermain di industri perbukuan nasional, atau setidak-tidaknya ikut berpartisipasi di dunia perbukuan dengan membuat atau menerbitkan buku, masih terbuka lebar.

Selamat berkarya, semoga sukses, dan saya nantikan buku best seller anda![Edy Zaqeus: https://rcmbb.wordpress.com/%5D