Tags

, , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Edy Zaqeus

Menyunting atau mengedit bisa diartikan sebagai upaya memoles dan mendevelop naskah supaya makin optimal kualitasnya. Uniknya, tidak semua penulis mampu menyunting dengan baik, pun tidak semua penyunting mampu menulis dengan baik pula.

“Revisi adalah salah satu kesenangan yang sangat elok dalam menulis”
Bernard Malamud

Jika anda berhasil menulis bab demi bab dengan sangat cepat, itu berarti anda telah menjalankan teknik yang sangat praktis dan efisien dalam menulis. Kalau dengan teknik ini anda berhasil menyusun buku yang sangat detail, maka anda layak berbangga dan percaya diri. Kalau pun anda merasa hasil tulisan itu belum memadai, anda tidak perlu berkecil hati. Minimal anda mampu menuliskan garis besar gagasan-gagasan dengan lancar dan langkah berikutnya adalah mengoreksi, memoles, serta memperkaya isinya.

Saya suka menggunakan rumus dasar logika penyusunan karangan yang umumnya terdiri atas perumusan masalah, pendekatan yang digunakan (dasar teori, proposisi, asumsi-asumsi, kerangka berpikir), analisis masalah (penjabaran, data), dan kesimpulan (jawaban atas masalah). Menurut saya, rumusan ini cukup aplikabel pada hampir semua jenis karangan atau tulisan. Adapun perbedaannya hanya pada panjang pendeknya masing-masing bagian tersebut serta bentuk atau cara penyampaiannya.

Rumusan di atas juga bisa kita gunakan untuk menilai bab demi bab yang telah ditulis, atau sebaliknya sejak awal kita gunakan sebagai acuan pengembangan tulisan. Dengan kerangka ini, kita tak mungkin hanya berpanjang-lebar pada salah satu aspek saja, semisal mengeksplorasi aspek permasalahan tapi melupakan bagaimana menganalisis masalahnya supaya dapat dipecahkan dengan data-data yang kita miliki. Rumusan di atas bisa digunakan secara ketat dalam membangun argumentasi yang solid untuk penulisan buku ilmiah populer.

Setelah menuliskan keseluruhan bab, biasanya kita relatif akan lebih mudah menilai apakah alur tulisan kita sudah sesuai dengan outline. Jika ada perkembangan di luar outline, misalnya ada perluasan pembahasan, kita bisa mengetahui apakah alur penulisannya tetap sejalan dengan ide dasarnya atau malah menyimpang. Kita juga bisa mengevaluasi apakah bab demi bab yang ditulis telah mampu menjelaskan solusi yang ditawarkan.

Jika ada kekurangan di sana-sini, misalnya menemukan gagasan yang terlalu lemah karena kurangnya dukungan data, informasi yang dijadikan dasar argumentasi sudah ketinggalan, perlu menambah kutipan-kutipan, memperbanyak contoh-contoh, memperbanyak variasi solusi, menambahkan gaya bahasa yang khas, termasuk mendapati kesalahan-kesalahan redaksional, maka sekaranglah saat yang tepat untuk memperbaiki atau melengkapinya.

Terkadang, dalam proses memoles ini kita menemukan lubang dalam susunan bab draft buku kita. Jika memang membutuhkan tambahan bab baru, kita bisa menambahkannya. Namun kita harus hati-hati dengan langkah ini. Fungsi bab tambahan hanyalah memperkuat, bukannya membuat buku kita semakin melebar atau bercabang pembahasannya. Tidak perlu menambah bab baru jika hanya untuk mempertebal buku saja, karena bab baru itu justru bisa melemahkan keseluruhan bangunan buku kita. Kecuali, penambahan bab memang matang penggarapannya dan punya tujuan strategis.

Mengenai penambahan bab ini, ada sebuah kiat khusus dari Tom dan Marilyn Ross pengarang The Complete Guide to Self-Publishing. Menurut mereka, sebuah bab khusus bisa diciptakan untuk membidik segmen pasar tertentu. Semisal, secara umum buku kita berbicara masalah pembelajaran sales people dan menyinggung soal agen asuransi. Daripada sekadar menyinggung sekilas masalah penjualan, akan lebih menjanjikan jika kita membuat pembahasan aplikasi teori-teori pembelajaran di dunia asuransi dalam sebuah bab tersendiri. Di bab ini kita bisa mengulas tuntas tentang aspek-aspek pembelajaran di industri perasuransian. Keuntungannya, bab khusus ini bisa mendapatkan apresiasi tersendiri dari dunia asuransi dan ini berpeluang untuk menggaet minat baca dari kalangan penggerak asuransi. Tentu saja, bab tambahan ini akan semakin punya kekuatan jika mendapat back up data-data atau informasi terbaru.

Nah, bagaimana mendapatkan data-data terbaru mengenai topik yang kita angkat? Kita bisa merujuk pada buku-buku, artikel-artikel, analisis, atau berita-berita terbaru yang relevan. Sumber klasik untuk keperluan ini adalah buku-buku terbaru, atau informasi-informasi lain dari koran, majalah, jurnal, atau internet. Kini, hampir seluruh penulis sangat mengandalkan internet untuk mendapatkan data-data terbaru mereka.

Jika tema buku kita kebetulan agak langka dan sulit dicari referensi dan pembandingnya, memanfaatkan informasi dari internet akan sangat membantu pengayaan buku kita. Dengan memanfaatkan fasilitas search engine (mesin pencari), kita bisa menemukan hampir semua informasi yang dibutuhkan. Sesibuk apa pun kita, sempatkan diri untuk mencari informasi-informasi tambahan dari internet. Sebab, meriset di internet pun bisa menjadi aktivitas yang merangsang kreatifitas. Namun jika kesulitan meriset sendiri, kita bisa menggunakan tenaga profesional.

Sahabat saya, Jennie S. Bev, yang bermukim di AS, adalah seorang konsultan bisnis, pengusaha, kolomnis, sekaligus penulis e-book yang sangat produktif (ia telah menulis lebih dari 20 e-book). Ia mengaku memiliki sejumlah staf yang membantunya melakukan riset di internet serta mengedit karya-karyanya. Dengan cara ini, dia bisa lebih berkonsentrasi mengeksplorasi gagasan-gagasannya, sementara hal-hal yang sifatnya sangat teknis dia serahkan kepada para stafnya. Alhasil, di samping kesibukannya yang sangat padat, Jennie tetap bisa produktif menulis buku-buku elektronik baru.

Apa saja yang bisa didapatkan dari internet? Dengan memanfaatkan mesin pencari semacam Google atau Yahoo, kita bisa menemukan berita-berita, artikel, analisis pakar, hasil jajak pendapat, tips, e-book, ilustrasi, dan masih banyak lagi. Jika kita mengunjungi website koran seperti Kompas (www.kompas.co.id), Jawa Pos (www.jawapos.co.id), Gatra (www.gatra.com), dll, kita pun bisa menemukan kembali arsip berita lama yang mungkin masih bermanfaat untuk melengkapi naskah kita. Semua bisa dimanfaatkan sebagai pembanding atau pelengkap, tentu saja dengan memperhatikan kaidah-kaidah perlindungan hak cipta jika kita kutip sebagian atau keseluruhan informasi tersebut.

Satu hal yang perlu kita perhatikan di sini, kalau kita menulis buku-buku minat khusus yang kental nuansa teorinya, kita perlu berhati-hati pada godaan menggunakan gaya bahasa yang terlalu teknis-akademis. Bagi sebagian penulis, kadang gaya seperti ini memang menaikkan rasa percaya diri, menumbuhkan kebanggaan, serta menunjukkan penguasaannya atas materi yang ditulis. Buku-buku yang sangat teoritis dan formal memang diminati sejumlah kalangan, misalnya kaum intelektual atau mahasiswa jurusan-jurusan tertentu. Namun bagi khalayak umum, gaya penulisan seperti itu terlalu berat dan sangat melelahkan. Orang bisa malas membaca karenanya.

Dari pengamatan saya, fast book atau buku-buku yang ringan dan populer merupakan buku yang paling disukai oleh mayoritas pembaca. Jika buku kita mengupas bidang-bidang atau minat khusus dalam format fast book, ‘hukum besinya’ adalah menyajikan bab-bab buku kita dengan gaya bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Untuk sasaran pembaca umum, kita tidak perlu menggunakan istilah-istilah teknis, apalagi tanpa penjelasan yang cukup.

Buku-buku ringan dan populer ini sangat luas segmen pembacanya dan rentang usia mereka pun bisa cukup lebar. Sekali lagi, kelompok sasaran ini menyukai fast book karena tidak terlalu tebal, enak gaya bahasanya, isinya mudah dicerna, cepat selesai kalau dibaca, dan agak miring harganya. Penyajian yang sederhana adalah kekuatan buku kita. Dan mayoritas buku-buku best seller non fiksi adalah buku-buku kategori ini.

Nah, selain cara-cara memoles buku yang mendasar seperti di atas, kita juga perlu memoles buku dengan menggunakan kriteria-kriteria yang biasanya diminta oleh penerbit. Tentu saja, ini selalu berpijak pada tren atau situasi pasar. Penerbit-penerbit yang sudah mapan memang mempunyai ketajaman tersendiri dalam memetakan pasar, membuat tren, memilih-milih mana naskah yang laku dan yang tidak, dan bagaimana menyiasati semua variabel penerbitan agar buku bisa jadi best seller. Kita akan bahas masalah ini di Bab 17. Berikutnya, kita akan bahas pilihan menulis bersama penulis profesional untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang kita alami saat menulis buku. [Edy Zaqeus: https://rcmbb.wordpress.com/%5D

Tips:

  1. Memoles buku bertujuan untuk mengefisienkan tulisan, bukan untuk memperpanjang dan membuatnya bertele-tele.
  2. Bab-bab tambahan bisa difungsikan untuk memperluas atau membidik segmen tertentu.
  3. Mintalah komentar atau evaluasi dari orang-orang yang ahli dalam bidang yang anda tulis.
  4. Berpeganglah pada gaya bahasa yang sederhana dan populer.
  5. Hati-hati dengan keinginan untuk membuat buku sesempurna mungkin, karena deadline mengejar anda.