Tags

, , , , , , , , , , , , , , , , ,

Edy Zaqeus

Menulis cepat merupakan menu utama dalam setiap pelatihan maupun writing camp kami. Foto di atas adalah sharing Pauline Leander (penulis buku “Warung Bu Sastro”) pada acara writing camp kami. Ia berhasil menyelesaikan buku perdananya dalam waktu cepat.

“Kalau ada seseorang yang ingin menulis dengan gaya yang jelas, lebih dulu dia harus jelas dalam pemikirannya.”
J.W. von Goethe
(Pengarang Jerman)

Ini jurus terpenting bagi para penyibuk yang sedang menggarap sebuah buku. Jika kita sedang mengalir atau menemukan kondisi flow, sebaiknya kita tidak berhenti apa pun yang terjadi! Menulis dan terus menulis dengan cepat secepat aliran ide yang muncul. Jika ide sudah tergambar di kepala, harus segera ditulis dengan cepat sampai aliran ide itu habis tuntas. Semangat harus dipertahankan, irama antusiasme harus terus ditumbuhkan, dan jangan sampai aliran ide itu disimpan untuk ditulis kemudian. Ini tidak bisa ditawar-tawar lagi. Mengapa harus menulis cepat?

Alasannya, jika sudah mulai menulis, berarti kita berperang dengan waktu yang sedemikian terbatas. Akan lebih menguntungkan jika kita mengefektifkan waktu –seberapa pun pendeknya– dibanding misalnya menunda menulis dengan alasan menunggu datangnya waktu yang lebih longgar. Penantian ini bisa jadi sia-sia! Bagi sebagian orang, ide datang sedemikian cepatnya dan bervariasi pula. Bagi orang seperti ini, ide-ide lama akan segera terlindas oleh ide-ide baru yang lebih memikat. Bila kondisinya seperti ini, apa yang semula sangat ingin ditulis tiba-tiba berubah menjadi seonggok ide usang. Mengapa usang? Bisa jadi, dalam waktu yang tidak terlalu lama kita menemukan buku yang ditulis oleh pengarang lain, tapi temanya serupa dengan ide kita. Situasi seperti ini dapat menurunkan semangat menulis.

Yang namanya mood sering berubah-ubah dalam tempo yang sangat cepat. Ayu Utami, novelis yang melejit dengan novelnya Saman, tegas-tegas menyatakan, mood harus didisiplinkan, dijaga, dan dibangun. Ia mengaku bisa membangun mood-nya saat pagi atau malam hari. Karena mood yang didisiplinkan itulah ia mampu menghasilkan sebuah novel yang sangat menarik dan sukses di pasaran.

Andrie Wongso, motivator dan penulis buku best seller 15 Wisdom & Success juga cepat sekali menangani mood-nya ketika menulis. Begitu ide muncul, ia langsung membuat coretan-coretan, mendiskusikan dengan staf-stafnya, atau meminta sang istri membantu menuangkan gagasan ke dalam tulisan. Ia tidak pernah mau menunggu terlalu lama. Begitu ide muncul dan sedang mood, tulisan harus segera dibuat dan diselesaikan.

Hari Subagya juga mengandalkan mood yang diperolehnya usai sholat malam atau dini hari. Keprihatinannya atas kondisi-kondisi sosial sekitar, serta harapannya agar banyak orang dapat berubah menjadi lebih baik, ternyata turut membantu memelihara mood saat menulis. Dan hasilnya, ia berhasil menulis dengan cepat bab-bab buku Time To Change dalam bentuk artikel-artikel pendek yang inspiratif.

Nova Rianti Yusuf, dokter dan penulis novel laris Mahadewa Mahadewi, ternyata menyelesaikan draft novel itu hanya dalam waktu dua minggu! Hebatnya lagi, novel tadi ditulis dan diselesaikan saat si Nova sedang terserang gejala tipes. Luar biasa! Apa kuncinya? Tak lain dan tak bukan adalah kemampuan menulis cepat tanpa henti selagi ada aliran gagasan. “Ide sudah menggumpal sehingga bisa menulis cepat…,” katanya pada Republika (25/5/03). Selain itu, hasrat untuk segera menyelesaikan tulisan juga membuat Nova Rianti menulis bak kesurupan. Menurut istilahnya, jika sudah “disambar petir” maka ide seperti tak berhenti mengalir dan menulis bisa cepat seperti lagi kesurupan.

Belajar dari pengalaman-pengalaman para penulis best seller tersebut, menulis cepat adalah teknik yang sangat penting, sangat efektif dan efisien, dan membantu kita menyelesaikan karya dengan cepat. Teknik ini benar-benar berharga bagi penulis-penulis yang produktif!

Jadi, tantangan kita adalah bagaimana menangkap aliran ide yang berharga, mempertahankan kondisi flow, menuliskannya dengan cepat sampai menjadi bab-bab yang utuh. Kita juga harus menjaga keselarasan dan konsistensi penuangan gagasan, dan kemudian menyelesaikan draft buku dengan cepat. Hal ini penting supaya buku kita sanggup menampilkan pemikiran yang komprehensif, pembahasannya tidak lompat-lompat, alur pikirnya terstruktur, sekalipun bentuk bukunya nanti adalah buku kumpulan tulisan. Saya pikir, pola ini berlaku untuk hampir semua jenis pengarang buku.

Dalam konteks para penyibuk, cara paling efektif adalah dengan fokus sepenuhnya pada proses menulis dalam porsi waktu yang telah diluangkan. Saat ide mengalir deras, kita harus menulis dengan cepat. Tak perlu takut salah menulis, mengkoreksi kesalahan ketik, menilai tulisan terlalu dini, dan tak perlu menanggapi keragu-raguan atau gangguan-gangguan kecil yang mungkin datang. Kita harus konsentrasi penuh menuliskan bab demi bab ke dalam tulisan-tulisan pendek, sekaligus menjaga supaya tulisan tetap berada dalam cara penyajian yang utuh. Maka, untuk strategi menulis cepat ini, pilihan bentuk tulisannya adalah kolom singkat dan padat, sekaligus eksploratif.

Menulis kolom dengan cepat seperti ini secara psikologis tidaklah terlalu membebani. Pijakan kita adalah outline yang bisa disikapi secara kreatif. Jika kita mampu membuat pointers yang cukup detail untuk sebuah bab, penulisannya pun akan relatif lebih mudah dan cepat. Saya berhasil menyusun bab-bab buku ini dengan cepat, pertama-tama karena outline yang saya susun cukup lengkap dengan pointers di tiap topiknya. Tidak selalu lengkap pada tahap awal. Bahkan separoh lebih dari topik-topik yang belum lengkap pointers-nya, justru ide pointers-nya saya dapat saat saya sedang menulis artikel lainnya dengan cepat.

Bab sebelumnya telah menjelaskan manfaat menulis mulai dari bab favorit kita. Cara ini membuat proses menulis menjadi lebih enjoyable karena kita bebas memilih bagian mana yang perlu dirampungkan dulu. Proses menulis harus bisa dinikmati sebagai sebuah aktivitas batin yang membangun sekaligus menyenangkan. Menulis adalah aktivitas perjalanan batin yang menghanyutkan, suatu keadaan ekstasi.

Setelah satu bab rampung, kita akan merasa lebih percaya diri. Pasti! Kita akan lebih optimis melanjutkan ke bab-bab berikutnya. Bisa ke bab berikut secara kronologis, atau bisa di-clong-clong sesuai stok gagasan yang hendak dituangkan. Saya punya keyakinan, begitu setengah atau tiga perempat outline bisa kita selesaikan dengan cepat, maka kita tidak akan mau menunggu lebih lama lagi untuk menyelesaikan buku tersebut. Energi akan berlipat karena motivasi dan kepercayaan diri bertambah.

Menurut saya, ada tiga aturan besi dalam mempertahankan ritme menulis cepat seperti ini:

  • Pertama, kita dilarang menjejalkan data-data penguat argumentasi, misalnya dalam bentuk kutipan-kutipan panjang maupun pendek, terlebih lagi catatan kaki.
  • Kedua, kalau tulisan tidak mengalami inkonsistensi alur atau logika berpikir, kita dilarang melakukan evaluasi di tahap penulisan.
  • Ketiga, pengayaan dan evaluasi harus dilakukan setelah keseluruhan bab tersusun lengkap.

Para akademisi yang terbiasa menulis dengan menyertakan kutipan dan catatan kaki akan sangat tidak setuju dengan jurus yang satu ini. Bagaimana bisa mereka dipaksa untuk mengabaikan pakem tulisan ilmiah yang selama ini menjadi paradigma berpikir mereka? Jika kita adalah penyibuk yang bisa meluangkan waktu banyak, tak apalah mengikuti cara-cara penulisan ilmiah yang sangat ketat. Tapi untuk menulis efektif dan efisien, cara tersebut kurang mendukung. Cara itu bisa membuat kita disibukkan dengan urusan membolak-balik literatur, mengecek keakuratan sebuah teori, konsep, atau proposisi, yang bisa mengganggu mood dan memperpanjang waktu menulis.

Karena itulah, jangan heran jika kebanyakan akademisi kita produktif menulis artikel kolom, opini, atau esai refleksi yang lebih instan sifatnya. Namun, tak banyak dari mereka yang suka menulis buku dengan pendekatan ilmiah yang sangat ketat. Kalau pun menulis buku, tak sedikit yang berbentuk kumpulan tulisan pendek yang pernah dimuat di media masa. Seperti saya tegaskan sebelumnya, ini tak masalah, bahkan saya mengajukannya sebagai alternatif. Namun dari fakta ini saja tergambar, pendekatan akademis tak akan membantu kita dalam menulis cepat. Dus, tulisan-tulisan yang terlalu akademis sifatnya kurang digemari karena tidak populer.

Ada fakta menarik yang dicatat Museum Rekor Indonesia (MURI) Februari 2002 lalu. Profesor Dr. F.G. Winarno, Guru Besar IPB berusia 64 tahun, mampu menulis 50 judul buku hanya dalam waktu 4 bulan, atau per judul buku diselesaikannya rata-rata dalam 2,4 hari! Sang Guru Besar ini menumbangkan rekor Drs. Sunarto yang “hanya” mampu menulis 20 judul buku dalam waktu yang sama.

Asal tahu saja, Winarno ini berulang kali memperoleh penghargaan dalam berbagai lomba penulisan dan penelitian. Salah satunya, Award Follow International Academy Of Food Science and Technology yang merupakan pengukuhan dirinya sebagai ahli pangan terkemuka di dunia (4 Oktober 1999). Winarno adalah orang Indonesia pertama yang menerima penghargaan bergengsi tersebut. Nah, silahkan berspekulasi, apakah dalam merampungkan 50 judul buku tadi Winarno menggunakan metode menulis cepat, ataukah metode ilmiah yang sangat ketat?[Edy Zaqeus: https://rcmbb.wordpress.com/%5D

Tips:

  1. Banyak gagasan emas tereksplorasi saat kita menulis cepat.
  2. Mood menulis harus dicari, dibuat, dikendalikan, didisiplinkan, dan dipertahankan.
  3. Menulislah dalam tulisan-tulisan pendek secepat datangnya aliran gagasan.
  4. Jangan berhenti, jangan mengevaluasi, jangan mengoreksi, sebelum tulisan selesai.
  5. Tetapkan target selesainya tulisan dan berusahalah disiplin menyelesaikannya.