Tags

, , , , , , , , ,

Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller

Buku “Mengukir Kata Menata Kalimat” ini merupakan contoh bagaimana buku tanya jawab disusun. Untuk mewujudkan buku ini, saya cukup menggali ide-ide dan pengalaman Andrias Harefa yang telah menghasilkan puluhan buku bestseller. Kekuatan wawancara dapat memunculkan buku yang pekat makna.

“Dialog dapat memberikan roh tersendiri dalam sebuah tulisan dibanding cara penulisan lainnya. Selain memudahkan proses penulisan, dialog juga pas dengan budaya verbal masyarakat kita.”

Edy Zaqeus

(Penulis Buku Best Seller)

Satu lagi yang bisa jadi alternatif kita adalah menulis buku tanya jawab atau wawancara. Format buku ini cukup sederhana karena isinya terdiri dari dialog, yaitu berupa pertanyaan dan jawaban serta sedikit pengantar di awalnya. Sekalipun bentuknya adalah tanya jawab atau wawancara, buku seperti ini ternyata juga mendapat sambutan cukup bagus. Contoh klasik buku semacam ini adalah Conversation With God karangan Neale D. Walsch yang sangat sukses di pasaran. Di Indonesia, contohnya adalah buku Mengarang Itu Gampang dan Mengarang Novel Itu Gampang, keduanya karya Arswendo Atmowiloto. Saya sendiri juga berhasil saat menghadirkan buku Kalau Mau Kaya Ngapain Sekolah! yang berisi wawancara dengan 11 entrepreneur sukses.

Buku tanya jawab layak kita jadikan alternatif. Ada beberapa alasan yang mendasarinya. Pertama, dari sisi kemudahan dalam membuatnya. Buku wawancara, baik yang dibuat berdasarkan wawancara langsung atau hanya cara penyajian gagasan dalam bentuk tanya jawab, keduanya relatif lebih mudah dibuat. Untuk mendapatkan materi buku seperti ini, caranya cukup mudah, yaitu dengan mewawancarai seseorang (atau mewawancarai diri sendiri), merekam wawancaranya, dan kemudian menanskripnya. Setelah itu, hasil transkrip diedit dan ada pengayaan bahan, misalnya diberi pengantar di awal bab sebelum memasuki tanya jawab.

Teknik membuat buku wawancara esensinya sama persis dengan cara membuat rubrik wawancara seperti yang kita dapati di berbagai koran, majalah, tabloid, atau website. Ada narasumber yang punya nama, ada tema tertentu yang didialogkan dengan mendalam, ada pengayaan materi, dan kemudian disuguhkan kepada pembaca seolah pembaca sedang berdialog langsung dengan si narasumber. Kalau si narasumber sangat populer, jelas wawancara semacam ini akan sangat menarik untuk diikuti. Sebagaimana kita akan bahas lebih detail pada Bab 10 dan 11 nantinya, membuat buku wawancara dapat menjadi solusi bagi mereka yang sangat bagus dalam eksplorasi gagasan secara verbal, tetapi agak sulit menulis.

Alasan kedua, format tanya jawab aslinya sangat familiar dengan pembaca umumnya. Kalau kita buka koran, majalah, tabloid, atau website, maka rubrik wawancara biasanya merupakan salah satu rubrik terfavorit. Website Pembelajar.Com (www.pembelajar.com) misalnya, yang saya kelola bersama Andrias Harefa, mempunyai rubrik wawancara yang benar-benar jadi favorit para pengunjungnya. Walaupun website ini memiliki banyak kolumnis ternama seperti Andrie Wongso, Jansen Sinamo, Andrias Harefa, Andrew Ho (Malaysia), Jennie S. Bev (USA), dan masih banyak nama top lainnya, tapi hampir 90% artikel yang paling sering dikunjungi adalah artikel wawancara.

Mengapa format tanya jawab disukai banyak orang? Dari pengamatan saya, format ini memungkinkan pembaca untuk menikmati tulisan seperti halnya berdialog langsung dengan si narasumber atau penulisnya. Pertanyaan-pertanyaan pembaca –yang diwakili oleh si pewawancara– seperti dijawab langsung oleh si narasumber. Terlebih bila pertanyaan-pertanyaannya benar-benar merefleksikan pertanyaan pembaca sendiri, aktivitas membaca pun bisa seperti dialog sungguhan. Dialog dapat memberikan roh tersendiri dalam sebuah tulisan dibanding cara penulisan lainnya. Selain memudahkan proses penulisan, dialog juga pas dengan budaya verbal masyarakat kita.

Alasan ketiga, buku tanya jawab sangat pas untuk tema-tema yang membutuhkan pendalaman diskusi, mengungkap kedalaman pemikiran tertentu, yang disajikan dalam bahasa lisan. Sifat bahasa lisan adalah sederhana, ringan, mudah dimengerti, dan lebih personal. Buku Conversation With God adalah contoh terbaik untuk menggambarkan alasan ketiga ini. Jika kita baca dialog-dialog si pengarang dengan Tuhan di dalam buku tersebut, kita bisa sangat tergoda untuk berkesimpulan bahwa dialog itu memang benar-benar terjadi antara si pengarang dengan Tuhan. Butir-butir pemikiran yang terkandung dalam buku itu sangat menyentuh, mendalam, dan revolusioner. Tak heran jika Dewi Lestari sangat terinspirasi oleh buku itu dan tergerak untuk menulis Supernova-nya yang sukses besar di pasaran.

Alasan keempat, buku dalam format tanya jawab juga bagus untuk buku-buku how to. Coba buka sejumlah website, tak jarang kita jumpai menu FAQ (frequently question and answer) yang memberikan penjelasan dalam format tanya jawab. Penjelasan melalui format ini diakui lebih sederhana dan memudahkan orang untuk memahami isi website, serumit apa pun website tersebut. Jadi kita tidak perlu bertanya ulang jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita itu sudah tersedia di menu FAQ. Nah, format tanya jawab bisa dimanfaatkan untuk buku-buku how to yang bersifat memandu pembaca. Format ini bisa membuat buku panduan kita menjadi detail sekali, termasuk kemampuannya dalam menjelaskan hal-hal yang bersifat sangat teknis.

Alasan kelima, buku tanya jawab cocok bagi para profesional dan pakar yang memandu rubrik-rubrik tertentu di media. Semisal rubrik tanya jawab dengan pembaca di sebuah koran, majalah, atau tabloid. Tidak terbatas pada media cetak, rubrik atau acara tanya jawab atau talk show interaktif di media elektronik pun bisa dikreasikan menjadi buku. Lelila Ch. Budiman dan dr. Hendrawan Nadesul adalah contoh pakar yang beberapa kali membukukan rubrik tanya jawabnya. Memang, jawaban-jawaban dalam rubrik seperti itu biasanya sangat ringkas dan padat. Oleh sebab itu, walau sebagai materi dasar buku memadai, akan lebih bagus lagi kalau materinya diedit dengan baik dan dikembangkan lebih lanjut.

Ada hal penting yang perlu diperhatikan bila kita memanfaatkan bahan-bahan seperti rubrik tanya jawab atau rekaman talkshow sebagai bahan mentah buku kita. Hal penting itu adalah editing atau pengayaan bahan. Rubrik-rubrik wawancara di media cetak biasanya dipegang oleh para redaktur yang sangat bagus kemampuan editingnya. Demikian pula harus diterapkan dalam membuat buku tanya jawab. Editing yang bagus akan menghindarkan kita dari pengulangan-pengulangan yang tidak perlu, mengurangi materi-materi yang tidak relevan, dan tentu saja menajamkan dasar-dasar argumentasi kita. Jadi, editor profesional sangat dibutuhkan untuk membantu memoles materi buku tanya jawab.[Edy Zaqeus: https://rcmbb.wordpress.com/%5D

Tips:

  1. Manfaatkan format buku tanya jawab untuk membuat buku panduan yang sifatnya sangat teknis dan detail.
  2. Manfaatkan format buku tanya jawab untuk membuat buku yang membutuhkan eksplorasi gagasan secara mendalam.
  3. Semua materi seperti makalah, presentasi, atau artikel pendek dapat dibuat dalam format tanya jawab.
  4. Format tanya jawab juga bisa dimanfaatkan untuk mengeksplorasi ide dan hasilnya pun sudah merupakan bahan mentah sebuah buku.
  5. Manfaatkan editor profesional untuk memoles materi tanya jawab anda.