Tags

, , , , , , , , , ,

RCMBB

Menyusun buku dengan format kompilasi atau kumpulan tulisan sesungguhnya merupakan salah satu cara termudah yang bisa ditempuh oleh penulis buku pemula. Rajin-rajinlah menulis artikel pendek dan suatu saat tanpa Anda sadari sudah ada satu naskah buku di tangan Anda.

“Kita tidak bisa memulai segala-galanya sekaligus”
Pramoedya Ananta Toer

(Pengarang Roman Sejarah)

Coba anda amati buku-buku karangan Hermawan Kartajaya, Renald Khasali, Gede Prama, Andrias Harefa, Roy Sembel, Handi Irawan, atau buku-buku dari pengarang lain yang sering mengisi kolom-kolom di berbagai media masa. Beberapa dari buku-buku mereka merupakan hasil kompilasi dari tulisan-tulisan pendek seperti kolom, esai, artikel opini, bahkan mungkin juga makalah yang diperbarui, yang dianggap punya nilai jual jika diterbitkan dalam sebuah buku kumpulan tulisan.

Dan kita tidak bisa meremehkan buku-buku seperti ini. Buku-buku kumpulan tulisan oleh pengarang-pengarang top di atas disambut baik oleh pasar. Tak sedikit yang jadi buku best seller. Buku Handi Irawan yang laris berjudul 10 Prinsip Kepuasan Pelanggan (2002) itu bahan dasarnya adalah tulisan-tulisan pendek yang sebelumnya tersebar di berbagai media massa. Sementara, di antara lebih dari 24 buku yang telah ditulis Andrias Harefa, setidaknya ada 13 buku kumpulan tulisan pendek yang jadi best seller, di antaranya Sukses Tanpa Gelar (1998), 10 Kiat Distributor MLM (1999), Berwirausaha dari Nol (2000), MLM di Era Internet (2000), Agar Menulis/Mengarang Bisa Gampang (2002), Sekolah Saja Tidak Cukup (2002), Agar Menjual Bisa Gampang (2002), Mengasah Indra Kepemimpinan (2003), dan Mengasah Paradigma Pembelajar (2003).

Kisah sukses buku kumpulan tulisan pendek seperti itu juga dapat dilihat dari sukses luar biasa serial Chicken Soup for the Soul yang disusun oleh Jack Canfield dan Mark Victor Hansen. Buku serial Chicken Soup for the Soul berisi kisah-kisah yang sarat nilai kemanusiaan, yang merupakan sumbangan tulisan dari banyak penulis dari beragam latar belakang. Kisah-kisah itu muncul dengan gaya dan cita rasa masing-masing, namun tetap bisa dicari benang merahnya, mengikat kisah-kisah tersebut menjadi buku yang memikat dan enak dibaca.

Pada awalnya, tak satu pun penerbit yang mau melirik proposal buku Jack Canfield dan Mark Victor Hansen ini. Tapi pecinta buku sering punya logika berbeda dengan para penerbit umumnya. Kenyataannya setelah diterbitkan, buku serial ini meledak di pasaran dan menjadikan kedua penulisnya nangkring di peringkat teratas di daftar pengarang paling top di Amerika Serikat versi New York Times dan USA Today. Kedua penulis tersebut kemudian berada di deretan para penulis yang paling dihormati. Buku mereka diwaralabakan dan telah terjual lebih dari 60 juta eksemplar di seluruh dunia.

Buku kumpulan tulisan pendek suka dicibir para kritikus sebagai buku yang ‘bukan’ buku. Saya punya pandangan yang berbeda. Buku kumpulan tulisan sama berharganya dengan jenis buku yang lain. Dari segi teknik penulisan, justru bentuk kumpulan tulisan seperti ini akan sangat membantu bagi seorang penulis buku pemula. Menunggu bahan terkumpul lengkap atau menunggu kesiapan waktu untuk menulis, kadang bisa berarti melewatkan sebuah momentum berharga. Jika ada tema-tema buku yang menarik, bersinggungan dengan tren yang sedang berlangsung, atau sedang ditunggu kehadirannya oleh konsumen pembaca, mengapa kita tidak mengambil strategi penulisan yang lebih pragmatis?

Sekali lagi, ini cara yang sah! Pasarlah yang akan menilai berhasil tidaknya sebuah buku, seperti kata Renald Khasali, “Buat saya pengakuan pasar itu lebih penting daripada omongan di kalangan orang-orang yang tidak menulis buku.” Renald mengawali dengan buku-buku kumpulan tulisan dan buku how to. Belum lama berselang, dia mengeluarkan buku manajemen masterpiece-nya berjudul Change! Manajemen Perubahan dan Harapan. Buku ini laris dan banyak diperbincangkan oleh kalangan eksekutif sebagai sebuah buku yang menarik, komprehensif, dan aplikabel.

Saya kira, cara yang ditempuh Renald tersebut baik untuk dijadikan alternatif. Lebih baik kita mengawali penyusunan buku dari kumpulan tulisan, sambil kemudian menggagas buku masterpiece berdasar pengalaman dan pengembangan tulisan-tulisan pendek sebelumnya. Setidaknya ada empat alasan, mengapa saya menyarankan format ini layak dijadikan alternatif oleh penulis pemula atau orang-orang sangat sibuk seperti anda.

Pertama, jelas alasan efisiensi atas waktu anda yang sangat terbatas. Ini mendasar, mengingat alasan utama mengapa orang-orang sibuk tidak terpikir untuk menulis buku adalah karena mereka merasa benar-benar tidak punya waktu. Bolehlah berandai-andai membuat buku komprehensif sekaligus best seller semacam ESQ dan ESQ Power karya Ary Ginanjar atau Jakarta Good Food Guide karya Laksmi Pamuntjak Djohan. Jika ngotot ingin membuat masterpice sementara aktivitas padat, kita harus siap tempur untuk menyeimbangkan waktu kerja dengan waktu menulis hingga buku rampung.

Kedua, karena keterbatasan waktu, kita dituntut untuk mampu menulis dengan cepat supaya tidak kehilangan mood. Tulisan-tulisan pendek atau kolom adalah jenis tulisan yang paling cocok untuk mengisi bab-bab dalam buku pertama kita. Tulisan seperti ini bisa ditulis di sembarang tempat begitu ada ide-ide segar terlintas. Kita tidak perlu menunggu terlalu lama untuk memulai menulis sebuah buku. Begitu outline berhasil disusun, kita bisa segera menjabarkannya melalui tulisan-tulisan pendek, bahkan tanpa harus ditulis secara berurutan. Yang terpenting, kita selalu menjaga alur logika dan bersedia merevisi jika diperlukan.

Ketiga, jenis tulisan-tulisan pendek sangat pas untuk menulis buku how to atau buku kiat-kiat praktis. Ini jenis buku yang telah saya sarankan di bab sebelumnya, yaitu menulis tentang profesi atau hobi kita. Lihat misalnya buku-buku how to yang judulnya diawali dengan “101 Cara…” yang banyak diterbitkan oleh Elex Media dan Arcan, atau buku-buku panduan yang diterbitkan oleh BIP, Kaifa, Gradien, dll. Sambutan pasar tidak terlalu mengecewakan. Bahkan penerbit baru seperti Gradien dari Yogyakarta, terbukti mendulang sukses dengan format buku-buku semacam ini. Hampir 90% buku how to yang mereka terbitkan rata-rata mengalami cetak ulang dalam waktu kurang dari enam bulan.

Memang, buku-buku how to yang sangat praktis ini sekarang malah sedang digemari masyarakat kita, yang konon kabarnya kurang begitu suka buku yang terlalu teoritis dan bertele-tele. Benarkah? Tampaknya demikian. Hasil penelitian Kompas (21 Juni 2003) di sepuluh kota besar menyatakan, sekitar 60 persen responden yang diteliti mengenal atau pernah membaca buku-buku how to. Sementara 97 persen responden atau hampir keseluruhan menyatakan mendapatkan manfaat dari buku-buku panduan tersebut.

Seorang Renald Khasali saja mengakui lebih suka menulis buku how to ketimbang buku-buku teoritis yang berat. Mengapa, alasannya karena buku how to memang sangat dibutuhkan oleh pasar dan Renald memang menulis berdasarkan masukan dari pasar. Terbukti, buku-bukunya pun disambut baik oleh pasar dan jadi best seller. Bagi penulis pemula, sukses di pasar sungguh sangat memotivasi untuk menelorkan karya-karya berikutnya. Jadi, buku how to yang ringan dan populer, serta digemari konsumen buku, tampaknya bagus untuk dijadikan pilihan pertama.

Selain untuk buku how to, buku kumpulan tulisan juga cocok untuk menuliskan tema-tema pengalaman pribadi. Sifatnya mudah dikerjakan dan pas sekali untuk menulis refleksi-refleksi pribadi atau mengisahkan penggalan pengalaman unik kita. Lihat misalnya karya-karya reflektif Gede Prama yang diterbitkan Elex Media seperti misalnya Inovasi atau Mati, Dengan Hati Menuju Tempat Tertinggi dan Percaya Cinta Percaya Keajaiban, atau buku-buku karya Anand Krishna yang sebagian merupakan olahan dari transkrip ceramah-ceramahnya.

Keempat, tulisan pendek pun terbuka untuk dikembangkan menjadi sebuah bab yang utuh dan mendalam. Bahkan, sebuah tulisan pendek juga bisa dikembangkan menjadi satu judul buku tersendiri. Namun, berhasil menyusun tulisan jenis ini menjadi bab-bab yang sesuai dengan outline pun sudah cukup untuk menghantarkan kita pada impian menyelesaikan buku pertama.

Pada hakekatnya, buku kumpulan tulisan tak kalah nilainya dibanding misalnya dengan kumpulan puisi, kumpulan cerpen, atau kumpulan esai sastra yang cukup mendapat tempat di kalangan kritikus sastra. Bahkan buku-buku seperti ini juga punya kelebihan lain selain yang saya sebutkan sebelumnya. Kelebihan itu adalah; kita bisa menambahkan sebuah model atas kumpulan tulisan tersebut, seperti yang dilakukan Hermawan Kartajaya dalam bukunya Hermawan Kartajaya on Marketing yang sukses di pasar itu. Atau seorang Stephen R. Covey pun melakukan hal yang sama dalam bukunya Principle-Centered Leadership yang juga menjadi best seller nasional di Amerika.

Buku kumpulan tulisan memang cukup populer dan beragam bahan dasarnya. Lihat buku Yuliana Agung berjudul 101 Konsultasi Praktis Pemasaran. Materi dasarnya diambil dari rubrik tanya jawab yang dia asuh di sebuah tabloid pemasaran. Lihat buku Perjuangan Keluar dari Krisis (BPFE, 2003), yang berisi percikan pemikiran-pemikiran Syahril Sabirin. Asal anda tahu, buku yang lumayan tebal itu dipersiapkan oleh sebuah tim selama lima tahun lebih, yang bahannya berasal dari kumpulan makalah, pidato, presentasi, dan artikel-artikel mantan Gubernur Bank Indonesia tersebut.

Jadi, format kumpulan tulisan layak kita perhitungkan. Yang terpenting sesungguhnya bukanlah apakah kumpulan tulisan itu dianggap buku atau bukan. Namun lebih pada gagasan-gagasan brilian yang dituangkan dalam tulisan tersebut. Percuma kita menyusun buku yang tampaknya komplit, tebal, dan sangat komprehensif, namun isinya ternyata hanya berputar-putar, mengulang-ulang gagasan yang sudah ada, dan sama sekali tidak punya ciri orisinilitas. Lebih sayang lagi kalau orang tidak berminat membaca atau membeli buku kita hanya karena alasan-alasan tersebut.

Untuk buku jenis how to yang berasal dari kumpulan tulisan, saya sendiri punya pengalaman menarik. Saya kumpulkan tulisan-tulisan saya yang dulu dimuat di majalah BERwirausaha yang sudah almarhum. Informasinya saya perbarui, saya edit ulang, dan ditambah data-data terbaru di sana-sini. Hasilnya, sebuah naskah buku berjudul Resep Cespleng Berwirausaha. Gradien, sebuah penerbit kecil di Yogyakarta menerbitkan naskah tersebut dalam format pocket book (saya lebih suka menyebutnya fast book atau buku cepat saji; mudah dan cepat ditulisnya, mudah dan cepat dibacanya, dan juga cepat lakunya) pada Oktober 2004 lalu. Sebelumnya naskah buku itu pernah ditolak oleh sebuah penerbit besar di Jakarta.

Dan, Anda ingin tahu alasan penolakannya? Begini; “…dengan menyesal… kami belum bersedia menerbitkannya karena berdasarkan informasi jaringan Toko Buku langganan kami, kami meragukan kesediaan pasar untuk menyerapnya dalam jumlah besar… Sementara itu untuk menyiasati krisis ini, kami amat selektif terhadap penerbitan naskah. Kami hanya menerbitkan naskah yang cetak pertamanya (minimum 3000 eksemplar) habis terjual dalam waktu paling lama 12 (dua belas) bulan… kami ragu apakah naskah jenis ini masuk dalam kriteria tersebut.”

Asal anda tahu, naskah buku yang diperkirakan bakal jeblok di pasaran itu ternyata telah cetak ulang ke-4 hanya setelah tiga bulan beredar di pasaran. Menarik bukan? Banyak kisah-kisah semacam ini di dunia perbukuan. Jadi, kita tidak perlu mudah putus asa jika naskah kita diragukan oleh pihak lain atas nama pasar. Nah, tunggu apa lagi? [Edy Zaqeus: https://rcmbb.wordpress.com/%5D

Tips:

  1. Sebaiknya tidak menggagas sebuah masterpiece pada awal memulai menulis buku.
  2. Mulailah dengan menginventarisir topik-topik yang menarik untuk ditulis dalam tulisan-tulisan pendek.
  3. Pilihlah jenis buku how to jika anda ingin membuat buku tentang profesi atau hobi.
  4. Sebelum menulis masterpiece, awali dengan memilih buku-buku ringan dan populer seperti format fast book.
  5. Seminggu satu artikel pendek, maka kurang dari tiga bulan anda sudah punya sebuah naskah buku.