Tags

, , , , , , , , , , ,

Eni Kusuma - RCMBB

Sahabat saya Eni Kusuma (mengacungkan jarinya) adalah contoh riil bagaimana seseorang bisa menulis sesuatu yang menarik dari pengalaman kesehariannya. Eni menulis buku motivasi laris “Anda Luar Biasa!!!” ketika ia masih menjadi TKW di Hong Kong. (Foto: dok Eni Kusuma)

“Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui.Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri.Itulah yang saya lakukan.”
J.K. Rowling

(Penulis Terkaya di Dunia)

Memilih tema, jenis, atau format buku ternyata sangat menentukan apakah buku yang kita tulis itu bisa digarap dengan mudah, cepat, dan efisien, atau malah berlarut-larut dan sulit diselesaikan. Mungkin, yang paling membuat orang ngeri saat bermaksud menulis buku adalah bayangan bahwa buku itu harus setebal dan sekomprehensif, misalnya, Business @ The Speed of Thought karangan Bill Gates yang terjemahannya setebal 417 halaman. Atau Retire Young Retire Rich karya Robert Kiyosaki dan Sharon L. Lechter yang terjemahannya setebal 450 halaman. Yang lebih dasyat lagi, seperti buku Hermawan Kartajaya on Marketing karya Hermawan Kartajaya yang tebalnya mencapai 826 halaman!

Tak ada salahnya punya keinginan mampu menyusun buku setebal buku-buku para penulis sukses itu. Tapi anda perlu berhati-hati mengingat kesibukan yang segunung atau mungkin dunia tulis menulis bukanlah keseharian anda. Menulis buku bisa menjadi sulit apabila kita tidak bisa mengkompromikan antara waktu yang kita miliki dengan pilihan jenis bukunya. Saya temukan, mereka yang sehari-hari bergelut dengan informasi dan dunia tulis-menulis pun –seperti para wartawan, peneliti, penerbit, editor buku, copywriter, script writer— sering mengalami banyak kesulitan saat menulis sebuah buku yang sederhana sekalipun. Sayang sekali, bukan?

Yang saya lihat, bukannya para profesional ini miskin ide seperti yang sudah saya singgung sebelumnya. Bukan pula karena mereka tidak mampu menulis, wong menulis itu sudah merupakan aktivitas keseharian dan telah mendarah daging dalam diri mereka. Tapi, problemnya lebih pada pilihan bentuk buku, tema yang dipilih, serta penguasaan teknik penyusunan buku yang agaknya memang belum dikuasai dengan baik. Sebab lain, ketakutan bukunya tidak ada yang membaca, ditolak penerbit, berikut soal orientasi dan motivasi menulis buku yang memang sangat minim. Sebagian lagi lebih karena beban idealisme untuk membuat karya masterpiece pada kesempatan pertama.

Bagi mereka yang sudah terbiasa menulis, pilihan tema dan format buku bukanlah hal yang terlalu prinsipil. Mereka bisa menulis jenis buku apa saja sesuai kehendaknya. Tetapi bagi mereka yang kesulitan menulis buku atau pemula khususnya, saya menyodorkan pilihan tiga tema buku, yang besar kemungkinan bisa diselesaikan dengan lebih mudah dan cepat. So, format buku seperti apa itu?

Menurut saya, sebuah buku yang sudah pasti bisa kita tulis adalah buku yang temanya membahas tentang profesi, hobi, atau kisah hidup kita sendiri. Mengapa menulis tentang profesi atau bidang kerja kita sendiri? Alasannya, inilah tema yang hampir pasti kita kuasai dengan baik ruang lingkupnya, detail sejarahnya, sisi teknis dan sisi praktisnya, sisi pengembangannya, literatur pendukungnya, pengalaman-pengalaman menarik di dalamnya, tantangan dan reward-nya, sampai prospek profesi itu ke depannya. Kalau pun dirasa penguasaan materinya belumlah selengkap itu, proses belajar untuk mendalami bidang kita sendiri tentu bukan hal yang terlalu memberatkan, bukan?

Sesungguhnya, setiap profesi layak dibuatkan beberapa judul buku yang membahas bidang tersebut secara praktis dan mendalam. Di Indonesia ini masih banyak profesi menarik yang berkembang pesat dari waktu ke waktu. Sayangnya, buku-buku yang bisa dirujuk mengenai profesi-profesi tersebut langka sekali. Maka masyarakat kita patut bersyukur jika ada sejumlah profesional mulai berani menuliskan dunia dan kisah hidupnya, misalnya seperti Ratih Sanggarwati menulis buku Kiat Menjadi Model Profesional dan Angelina Sondakh menulis buku Kecantikan Bukan Modal Utama Saya (2002). Ada pula Ida Kuraeny, seorang agen asuransi yang menulis buku Membuat Impian Menjadi Kenyataan (2003), Sony Set dan Sita Sidharta yang menulis buku Menjadi Penulis Skenario Profesional (2003), Imelda Akmal yang sukses dengan buku-buku Seri Menata Rumah-nya, atau Roy Sembel dengan seri buku finansial, investasi, dan manajemen diri, dll.

Buku kaum profesional seperti ini berkemungkinan mengatrol popularitas penulisnya dan menjadi pengukuh keahlian mereka. Ingat, buku bukan saja berfungsi sebagai penyebar gagasan tapi sekaligus bisa menjadi alat public relations yang hebat di masyarakat. Buku bisa menjadi media personal branding yang cukup efektif. Selain itu, buku-buku para profesional bisa membuka tabir profesi, menyebarkan ketrampilan, dan mempromosikan prospek profesi ke khalayak. Buku para profesional juga bisa menumbuhkan diskusi publik, bahkan sangat mungkin meningkatkan minat masyarakat terhadap profesi-profesi mereka.

Nah, kalau pengenalan masyarakat terhadap sebuah profesi semakin luas, tak tertutup kemungkinan dunia profesi itu bakal makin bergairah pula. Apalagi kalau buku yang ditulis meledak di pasaran. Jika demikian, profesi itu malah bisa berkembang lebih pesat lagi. Buku-buku mengenai profesi tertentu memang tidak semuanya menjadi best seller, tetapi kehadirannya jelas dibutuhkan. Dan yang pasti, tetap ada segmen pasar tersendiri yang layak digarap.

Katakanlah sudah pernah ada orang yang menulis buku-buku tentang profesi kita. Walau demikian, selalu ada peluang bagi kita untuk membuat buku yang sama temanya, namun dengan penyempurnaan, pengayaan, dan pendalaman. Kita juga bisa membuat buku itu menjadi lebih menarik dengan memasukkan pengalaman khas kita sendiri atau dilengkapi dengan data-data terbaru, serta ditambah visi-visi pribadi kita mengenai profesi tersebut. Rasanya, kecuali kitab suci, tidak ada satu buku pun yang bisa diklaim paling lengkap, paling tuntas, atau paling paripurna. Tidak ada! Jadi, kita boleh yakin kalau mau menggarap buku mengenai profesi kita sendiri.

Tema kedua yang juga relatif lebih mudah ditulis adalah buku yang membahas mengenai hobi. Alasan penguasaan materi seperti pada tema profesi juga berlaku di sini. Kelebihannya, yang namanya hobi itu berlimpah jumlahnya dan orang menjalankannya karena memang mereka sangat menyukainya. Membahas tema yang kita kuasai dan juga kita sukai, wah… tak akan ada habisnya untuk dituliskan. Menulis buku tentang hobi sendiri seperti menulis sebuah buku harian. Kita bisa mencurahkan perhatian sepenuh hati, menuliskan dengan sangat antusias, ada gereget di dalamnya, dan tentu saja ini merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan. Menikmati menuliskan tema yang kita sukai merupakan sebuah kondisi yang fundamental perannya dalam proses menulis buku.

Buku-buku tentang hobi sudah pasti ada peminatnya. Bahkan saat Indonesia dilanda demam beternak jangkrik, bertenak cacing atau demam ikan lou han, buku-buku mengenai topik ini laris manis bak kacang goreng. Ambil contoh, Buku Sukses Beternak Jangkrik yang diterbitkan penerbit Penebar Swadaya, laku terjual di atas 10.000 eks dalam sebulan peredarannya, mengalahkan buku-buku politik yang menjamur sejak tahun 1998 (Kompas, 24 Mei 1999).

Namun, sampai buku ini selesai ditulis, belum banyak buku mengenai hobi yang ditulis oleh pengarang lokal. Kita masih agak sulit mencari buku hobi yang –misalnya– ditulis oleh seorang kolektor uang kuno, perabotan kuno, perangko, lukisan, dll. Buku-buku tentang perawatan mobil antik, tentang bisnis rafting, panduan bagi pemanjat tebing, panduan membuat aksesoris, seni membuat topi, atau tentang piercing (memasang aksesoris logam di tubuh) yang belakangan sedang ngetren, juga masih sulit ditemukan. Ribuan hobi, dari hobi lama sampai yang terbaru, menanti sentuhan para penghobi untuk menuangkannya dalam bentuk buku. Feeling saya, buku-buku hobi semacam ini bisa menjadi peluang bisnis tersendiri bagi penulis yang mau menggarap ceruk pasar yang ada.

Sebab itulah, sekadar contoh, kita patut salut kepada para penghobi seperti Akmal Nasery Basral dan Ekky Imanjaya yang membukukan proses pembuatan film dalam buku berjudul Andai Ia Tahu (2003). Salut juga untuk Ade Ray dengan bukunya yang eksklusif tentang binaraga berjudul Muscle Building Tips Diet dan Nutrisi, atau Laksmi Pamuntjak Djohan yang membuat buku eksklusif berjudul Jakarta Good Food Guide. Acungan jempul juga perlu diberikan kepada Mashuri yang sampai melahirkan 83 judul buku, khusus untuk melayani kehausan para penghobi masalah-masalah supranatural.

Saya yakin, sekalipun sangat sibuk, kita tidak akan tega sepenuhnya meninggalkan hobi kita. Apalagi jika hobi itu ditekuni sejak kecil. Hobi seringkali menjadi pelepas dahaga, penyembuh kepenatan, penghilang kejenuhan, dan sumber energi baru bagi vitalitas kita. Lebih dasyat lagi jika hobi kita punya nilai bisnis yang tinggi, klop sudah! Siapa sih yang tak tertarik melakukan sesuatu yang menyenangkan hati, sekaligus mendatangkan uang yang lumayan jumlahnya?

Masyarakat senantiasa antusias menyambut hobi-hobi baru yang menarik dan menantang untuk dicoba. Jika kita ahli di dalamnya, mengapa tidak dibuat bukunya? Asal ceruk pasarnya bisa dijangkau dan dimanfaatkan secara maksimal, buku-buku hobi punya kans yang tinggi untuk jadi best seller! Mau bukti? Ada. Buku Seni Internet Hacking: Uncensored (2004) karya S’to laris manis diburu para hacker yang ternyata bejibun jumlahnya. Hanya dalam waktu lima bulan, buku itu terjual lebih dari 10.000 eksemplar. Padahal, harganya juga tidak murah-murah amat lho! Sebelumnya, siapa mau melirik bahwa ilmu utak-atik program ini? Si S’to tahu, banyak hacker atau mereka yang hobi dan berminat jadi hacker di Indonesia. Komunitasnya maupun milistnya pun sudah ada dan sangat aktif. Komunitas ini merupakan ceruk pasar yang sempat dilewatkan oleh begitu banyak penulis buku-buku komputer. Begitu digarap, hasilnya mengagetkan…best seller!

Nah, tema ketiga yang relatif lebih mudah diwujudkan adalah buku tentang kisah hidup kita sendiri. Tema buku ini bisa dibagi menjadi dua, pertama berbentuk otobiografi yang mengisahkan perjalanan hidup sedari kecil hingga sekarang. Kedua, berbentuk sepenggal perjalanan hidup, event spesifik dengan makna mendalam, pengalaman spektakuler, prestasi-prestasi tertentu yang sangat mengesankan, atau berisi proses kreatif tertentu yang bernilai praktis serta menarik untuk diketahui khalayak.

Bentuk pertama memang pas jika kita merasa bahwa perjalanan hidup sudah cukup kaya dengan pengalaman sehingga bisa dituangkan dalam otobiografi yang menyeluruh. Sementara bentuk kedua sebenarnya agak dibatasi oleh waktu. Apalagi kalau pengalaman spektakuler itu masih hangat dibicarakan khalayak. Atau, pengalaman itu berkait dengan proses bisnis yang sedang ngetren, sehingga penggarapannya tak mungkin ditunda lagi supaya tidak keburu basi. Kadang bentuk kedua ini digabungkan untuk memperkaya bentuk pertama, tapi bisa pula dipisah dengan alasan terakhir tadi.

Berangkat dari gagasan itulah, saya rasa di tanah air ini ada begitu banyak kisah-kisah menarik yang layak dibukukan. Alangkah menariknya jika kisah penyanderaan Ersa Siregar dan Ferry Santoro (wartawan RCTI) oleh GAM atau penyanderaan Meutia Hafid dan Budianto (wartawan Metro TV) oleh pejuang Irak bisa ditulis menjadi sebuah buku yang menarik. Juga pengalaman sejumlah wartawan televisi yang menjadi saksi mata kecelakaan pesawat di bandara Adisumarmo, Solo, beberapa waktu lalu.

Belakangan, beberapa selebritis mulai berminat membukukan karya-karya maupun kisah hidupnya. Sekalipun ada suara-suara sumbang di kalangan “kritikus perbukuan”, saya rasa fenomena itu sah-sah saja. Sebab, buku merupakan media ekspresi yang sah, terbuka, dan boleh dimasuki atau dimiliki oleh siapa saja, bukan hanya milik kelompok tertentu. Saya rasa ini perkembangan yang sangat menarik dan pasar pun ternyata bereaksi cukup positif terhadap buku-buku semacam itu.

Di kalangan perbukuan sempat ada anggapan bahwa di Indonesia khususnya, buku-buku yang mengupas pengalaman pribadi atau biografi dianggap tidak laku di pasaran. Anggapan itu mungkin ada benarnya bila otobiografi digarap serampangan, tidak menawarkan sesuatu yang unik atau baru, isinya tidak berbobot, tokohnya tidak mengundang simpati, hanya menjadi ajang pembelaan atau “pembersihan diri”, atau ditujukan semata untuk mengangkat citra sosok yang ditulis.

Tetapi buku-buku pengalaman pribadi yang ditulis dengan bagus (apalagi oleh penulis yang diakui kepiawaiannya), kisahnya benar-benar berbobot, menawarkan sesuatu yang unik atau baru, sedang hangat diperbincangkan masyarakat, terbukti disambut baik oleh pasar. Biografi Ali Sadikin yang ditulis Ramadhan KH sampai dicetak ulang 15 kali dan terjual antara 75.000-80.000 eksemplar. Biografi Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) Sang Demokrat –yang tebalnya 1.003 halaman dan mahal harganya itu– ternyata laris di pasaran karena diluncurkan pada saat si tokoh sedang naik daun. Otobiografi berjudul Aa Gym Apa Adanya juga menjadi salah satu mega best seller  Indonesia karena terjual lebih dari 140.000 eksemplar dalam waktu dua tahun peredarannya.

Nah, mengapa saya menyarankan menggarap tema-tema buku yang erat kaitannya dengan hobi, pengalaman, dan keahlian kita? Pertama, sudah pasti kitalah orang yang paling mengenal jalan cerita hidup kita sendiri. Tinggal mengenang masa-masa suka dan duka dari kecil hingga sekarang, mencatat hal-hal paling menarik sepanjang perjalanan hidup, maka tersedia sudah materi bukunya.

Kedua, untuk orang-orang sibuk, mungkin menulis kisah sendiri jauh lebih mudah dibanding menulis tema lain di luar keahlian, minat, atau kompetensi. Bagi mereka yang sebelumnya tidak punya pengalaman menulis panjang atau jarang menulis, menyusun buku di luar bidang dan minat sendiri bisa banyak konsekuensinya. Salah satunya adalah keharusan mengadakan riset mendalam atau keharusan mendapatkan dukungan data yang lebih lengkap. Ini sulit dilakukan tanpa didukung tim riset atau bantuan konsultan editorial.

Jika saat ini menulis adalah sesuatu yang agak asing atau menulis buku adalah pengalaman pertama, sebaiknya kita pilih tema-tema yang kita suka.[Edy Zaqeus: https://rcmbb.wordpress.com/%5D

 

Tips:

  1. Kenali diri sendiri; apa yang kita sukai, apa yang kita kuasai, dan apa yang kita inginkan, dan itulah yang sebaiknya ditulis.
  2. Membuat buku masterpiece bisa sangat menyulitkan bagi seorang pemula. Jadi, sebaiknya dihindari.
  3. Pengalaman-pengalaman unik selalu menarik untuk dibuat buku. Jadi, carilah pengalaman yang unik-unik.
  4. Pelajari dengan serius hobi anda, dan buat buku yang menarik tentangnya. Selalu ada segmen khusus dari sebuah hobi.
  5. Gunakan buku tentang profesi anda sebagai medium personal branding.