Tags

, , , , , , , , , , , ,

Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller

Suasana pelatihan menulis buku di kalangan dosen muda, staf, & mahasiswa Fisip Universitas Sebelas Maret Solo. Kondisi flow bisa diciptakan dengan berbagai cara.

“Ilham datang dari kerja setiap hari.”
Charles Pierre Baudelaire
(Penyair Perancis)

Sebagai seorang jurnalis dan penulis profesional, saya sering menemukan dua situasi cukup unik saat berbincang dengan narasumber, klien, maupun rekan-rekan seprofesi. Situasi pertama, ada di antara mereka yang ingin sekali menulis buku, tapi merasa tidak memiliki ide tentang tema beku seperti apa yang menurut mereka layak ditulis. Situasi kedua, ada beberapa rekan yang dengan lincahnya mampu menambang ide tema buku, namun mereka tak pernah beranjak untuk mewujudkannya. Yang pertama merasa seolah blank alias tidak tahu tema apa yang sebaiknya digarap. Sementara yang kedua lebih dipenuhi oleh keragu-raguan atau kurangnya motivasi menulis.

Bagi seorang penulis, apalagi bila di kepalanya selalu terngiang-ngiang keinginan membuat buku best seller, ide yang bagus memang penting sekali peranannya. Tapi saya percaya, bahwa yang namanya ilham, inspirasi, atau ide-ide menarik itu berlimpah dan bisa didapat di banyak tempat. Rasanya, kita itu seperti dikelilingi oleh ladang gagasan yang siap dipanen oleh siapa saja yang cukup jeli untuk memanfaatkannya. Ladang itu bisa berupa celetukan ide dari kepala orang lain, internet, berita-berita menarik di media massa, siaran televisi, buku-buku, atau sumber-sumber lainnya. Kadang dengan sedikit pancingan pertanyaan saja, kebanyakan dari kita bisa menunjukkan betapa berlimpahnya ide di kepala kita.

Persoalannya, kadang kita sudah cukup puas dan bangga jika punya ide saja. Padahal, sebelum sebuah ide dieksekusi menjadi sebentuk karya, ide itu belum aktual nilainya. Nah, keberanian dan hasrat 100% untuk mewujudkan ide-ide adalah kata kuncinya. Ini berlaku pada proses kreatif menulis buku.

Banyak sekali tempat dan momentum menjadi sumber tercetusnya ide. Tak terbantahkan bahwa kamar mandi sering menjadi tempat yang membuat kita seperti dihujani oleh ide-ide menantang. Kadangkala saat gosok gigi, keramas, menikmati guyuran air di kepala, saat bersenandung, berendam di bak mandi, atau bersantai dengan pelampung di kolam renang, banyak ide berseliweran. Yang lain barangkali pernah menemukan eureka (percikan ide bagus atau pemecahan masalah) ketika meditasi, menikmati perjalanan jauh, melihat pemandangan alam, menikmati musik, film, karya seni, acara televisi, berselancar di internet, berdiskusi, brainstorming, bercanda dengan teman, atau saat mengamati sesuatu yang menarik perhatian.

Yang unik, dan saya berulang kali mengalami hal ini, ide-ide bagus bahkan bisa muncul saat seseorang sedang konsentrasi bekerja. Inilah situasi yang oleh Profesor Mihaly Csikszentmihalyi, pengarang buku Creativity – Flow and the Psychology of Discovery and Invention, digambarkan sebagai keadaan flow atau sedang mengalir. Dalam situasi flow ini, biasanya kita sedang asyik-asyiknya mengerjakan sesuatu dalam tingkat konsentrasi yang tinggi. Lalu kilasan ide-ide tertentu mendadak muncul tanpa kita mengundangnya. Sekelebat saja tapi seringkali begitu memikat perhatian kita. Akibatnya, kita seperti sedang mengalami jeda sejenak, lalu terhanyut oleh kilasan inspirasi yang samar-samar dan masih berbentuk khayalan tadi.

Pada situasi flow ini, inspirasi atau gagasan bisa mengalir begitu derasnya. Jika berhasil mempertahankan keadaan ini, terkadang ide yang didapat bisa komplit dan detail. Kalau kita sedang bagus mood-nya, tubuh segar bugar, antusiasme tinggi, dan apa yang kita kerjakan itu membuat kita senang melakukannya, sangat menarik perhatian kita, maka kita akan mudah sekali mencapai kondisi flow. Yang menarik, disadari atau tidak, umumnya kita pernah atau bahkan sering mengalami kondisi flow seperti ini. Bukan cuma seniman atau penulis yang sering merasakan flow, tapi semua orang dengan beragam profesi dan bidang pekerjaan.

Saya sendiri sering mengalami situasi-situasi yang agak unik seperti ini. Tahukah anda, ide dan outline buku ini saya dapatkan justru saat saya sedang dikejar deadline untuk menyelesaikan dua buletin internal yang saya tangani. Anda bisa bayangkan, saya sempat tegang manakala deadline di depan mata, tetapi belum semua materi tulisan bisa saya dapatkan. Anehnya, saat dilanda ketegangan itu, justru ada ide yang begitu menggoda untuk diwujudkan. “Wah… ini pasti jadi buku best seller!” batin saya waktu itu. Aliran ide buku itu muncul seperti gambar-gambar film di kepala saya, yang memberitahukan bagaimana format buku harus disusun dan ditulis dengan cepat. Komplit sekali, mulai dari judul besar sampai isi bab demi bab, dari pengantar hingga penutup, contoh-contoh yang perlu dibahas, semuanya terasa mengalir begitu saja!

Alhasil, saya tidak melewatkan untuk mengambil jeda dan buru-buru mencatat aliran ide tersebut. Hanya makan waktu beberapa menit, ide itu sudah tampak lengkap dan siap digarap. Yang luar biasa, saya merasakan kegairahan baru karena eksplorasi ide tadi. Efeknya, saya malah semakin bersemangat untuk segera menyelesaikan pekerjaan sebelumnya, dan segera ingin merealisasikan gagasan yang baru lahir.

Beberapa rekan saya juga sering merasakan kejadian seperti ini. Mendadak mereka mendapat ilham jutsru saat sedang disibukkan oleh suatu pekerjaan yang menuntut konsentrasi tinggi. Justru saat mereka sedang sibuk menulis berita, mengaudit keuangan perusahaan, menganalisis proposal bisnis, sibuk berdebat, bahkan saat bicara di atas mimbar, tiba-tiba bermunculan ide-ide yang tidak ada relevansinya dengan apa yang sedang mereka kerjakan.

Apa yang ingin saya tegaskan adalah bahwa kesibukan kita pada suatu obyek tertentu sama sekali tidak menutup kemungkinan berlangsungnya proses kreatif di otak kita. Konsentrasi pada satu pekerjaan, bahkan pada situasi-situasi yang cenderung menekan sekalipun, ternyata tidak selalu menghentikan katup-katup sumber kreatifitas kita. Fakta ini menegaskan efektifitas teknik menggali ide secara simultan dengan aktivitas lainnya, seperti yang saya singgung pada Bab 3.

Jadi, ide tema buku sesungguhnya bukan barang langka, termasuk bagi orang-orang yang sangat disibukkan oleh aktivitas-aktivitas kesehariannya. Persoalannya kemudian, apakah ide-ide tersebut cukup memadai untuk dikreasikan menjadi sebuah buku yang laris di pasaran? Saya berpendapat bahwa sebuah ide layak dikembangkan menjadi buku jika secara garis besar isinya bisa menambah keterampilan pembaca dalam memecahkan masalah, membangkitkan motivasi, menggugah kesadaran, menumbuhkan semangat belajar, merangsang kreatifitas, menstimulasi munculnya gagasan baru, menghibur, atau melayani minat khusus lainnya.

Apakah tema-tema yang mempunyai fungsi seperti itu selalu menarik minat penerbit atau bisa membuat buku laris di pasar? Memang tidak semua tema buku yang memenuhi fungsi di atas otomatis akan menarik minat penerbit atau calon pembeli. Tetapi sebuah ide buku tetap perlu dieksplorasi, dicari kekuatan dan kelemahannya, dan tentu saja proyeksi tanggapan pasar. Kita akan bahas persoalan ini lebih mendalam pada bab-bab mendatang.

Begitu berharganya sebuah ide tema buku, sehingga jangan sampai kita melewatkannya. Setiap kali terlintas ide tema buku, sebaiknya kita tangkap dan dicatat garis besarnya. Sebisa mungkin, ilham atau ide tadi ditulis di atas secarik kertas, di menu pesan handphone, diketik di PDA, komunikator, laptop, atau malah langsung  dieksplor jika memungkinkan. Nah, setiap ada kesempatan jeda dari kesibukan, misalnya saat ngopi di kafe bareng rekan bisnis, saat menunggu pemberangkatan kereta api atau pesawat, saat di lift, saat di mobil, kita bisa merenungkan ulang ide-ide tadi. Bisa pula kita cari komentar dari orang di sekeliling kita tentang ide itu. Tak perlu detail. Yang penting, kita bisa memperkirakan apakah topik itu cukup menarik perhatian orang lain. Ragam komentar itu bisa dijadikan katalisator untuk mempertajam ide tema buku kita.

Saya sendiri selalu mencatat, minimal mengingat-ingat ide tema atau judul buku yang terlintas saat melakukan berbagai aktivitas di mana pun berada saat itu. Hasilnya, kini saya memiliki lebih dari 500 ide tema atau judul buku yang tersimpan di sebuah buku catatan khusus. Apa gunanya? Tak jarang tema buku atau judul-judul itu menjadi sumber inspirasi bagi lahirnya banyak artikel pendek saya. Kadang sekadar terpakai sebagai variasi judul dalam laporan-laporan buletin yang saya kelola atau menjadi tulisan-tulisan pendek di website Pembelajar.Com. Kadang bahkan bisa saling berkaitan dengan judul-judul lainnya sehingga terangkai menjadi sebuah buku sungguhan. Saya juga temukan bahwa judul-judul itu kadang lebih dulu ditulis menjadi buku oleh penulis-penulis lain.

Yang saya rasakan, lahirnya sebuah ide tema atau judul buku pun sanggup memotivasi saya untuk menuliskannya dalam sebentuk artikel maupun buku. Jadi, mulai sekarang, ada baiknya kita lebih menghargai setiap ide yang terlintas manakala kita tengah disibukkan dengan pekerjaan, profesi, atau hobi kita. Saat membaca, mengamati, menemukan, atau mengalami pengalaman-pengalaman unik pun, sebaiknya kita siap menangkap daya tariknya. Tidak perlu terlalu prematur mengadilinya sebelum kita memberi mereka kesempatan untuk berkembang cukup matang. Cukup tuliskan, endapkan, renungkan, dan kembangkan bila saatnya sudah tepat.[ez: https://rcmbb.wordpress.com/%5D

Tips:

  1. Ide, gagasan, ilham, atau pertanyaan bisa menjadi modal dasar bagi lahirnya sebuah buku laris.
  2. Catat semua ide yang terlintas manakala anda dalam kondisi flow.
  3. Jangan adili ide anda sebelum anda memberinya kesempatan menjadi matang.
  4. Terkadang ide-ide bagus disia-siakan…rawatlah dan manfaatkan ide tersebut.
  5. Jika menemukan sebuah ide menarik, eksplor lebih jauh dan carilah feedback yang bagus.