Tags

, , , , , , ,

resep cespleng menulis buku bestseller

Johanes Ariffin Wijaya (motivator & penulis produktif), Edy Zaqeus, Endany Setyati (penulis “Surga buat Habibie”), Melly Kiong (Parent coach & penulis “Cara Kreatif Mendidik Anak ala Melly Kiong”), & Soegeanto Tan (penulis “Master 18”)

“Yang mungkin diperlukan bukanlah suatu ‘bakat’ istimewa, tetapi lebih pada keinginan dan minat yang besar untuk mau belajar, membangun kebiasaan menuangkan gagasan lewat tulisan.”
Andrias Harefa
(Penulis Buku-buku Best Seller)

Sungguh saya tidak ingin anda berlama-lama membaca bab ini. Hampir dalam setiap pembahasan mengenai tulis-menulis, orang bertanya atau berargumentasi soal perlu tidaknya bakat menulis. Saya banyak menemukan keluhan semacam ini dari orang-orang sibuk yang berhasrat sekali menulis buku. Perdebatan apakah perlu ada bakat dulu baru bicara menulis buku sesungguhnya tidak berguna. Katakanlah kita memvonis diri sendiri tidak berbakat, kemudian orang lain mengiyakan saja cap yang kita buat sendiri tadi. Hasilnya, menulis buku benar-benar akan tinggal impian belaka. Jika sudah memvonis diri tak berbakat menulis, tak mampu, tak ada waktu, tak ada ide, maka membuat buku tidak lagi gampang jadinya.

Bagi saya, soal mampu atau tidak mampu, bakat atau tidak bakat, kadang itu hanya soal konstruksi mental yang tidak pas atau keliru sama sekali. Terutama dalam konteks penulisan buku-buku non fiksi, soal bakat menulis sebenarnya relatif tidak menentukan. Esensinya tetap pada soal motivasi dan konstruksi mental. Jika konstruksi mental kita sudah tidak pas, biasanya memang akan sulit melihat peluang-peluang yang ada. Padahal, peluang itu bisa dimanfaatkan untuk merealisasikan gagasan kita.

Jadi, sejak awal penting sekali membenahi keyakinan kita. Menulis buku laris tidaklah sesulit yang dibayangkan banyak orang. Tidak diperlukan kemampuan-kemampuan ekstra untuk melahirkan buku semacam itu. Yakin saja, semua orang bisa menulis buku, dengan satu dan lain cara. Contoh-contoh pada bab sebelumnya telah membukakan wawasan kita, bahwa dari segala macam profesi, latar belakang sosial, pendidikan, bahkan latar belakang usia pun, ternyata tidak begitu menghalangi orang untuk menulis buku yang digemari pasar.

Yang diperlukan adalah kebulatan tekad untuk menulis. Bila perlu belajar menulis dari nol. Tekun berlatih menulis apa saja, menemukan tema-tema yang menarik perhatian kita, serta menggunakan teknik-teknik yang tepat dan sesuai dengan kemampuan kita.

Saya yakin, jika kita pernah menulis catatan harian, surat cinta, puisi, pantun, atau membuat ringkasan pelajaran, itu semua merupakan cikal bakal penulisan buku. Apalagi kalau kita pernah menulis surat pembaca di media massa, menulis makalah, resensi buku, menyusun skripsi, itu lebih memudahkan lagi. Pernah atau terbiasa menyusun pidato sendiri, menyusun rencana bisnis, menulis laporan, atau membuat presentasi, sekali lagi itu juga berarti bukti “bakat” kita untuk menulis buku. Semua aktivitas –yang mungkin kita anggap sepele– itu sebenarnya merupakan bahan-bahan atau kemampuan dasar, yang potensial untuk dikembangkan lagi. Kita tinggal mengasah, lalu memilih teknik yang tepat, dan kemudian dilanjutkan dengan menulis.

Andaikan anda adalah orang yang menguasai profesi atau bidang tertentu yang unik, memiliki hobi yang menarik, punya kemampuan khusus yang layak jual, suka mendiskusikan hal-hal tadi, suka membimbing atau melatih orang lain untuk melakukannya, dan sangat senang melakukannya, maka peluang besar menulis buku sudah di tangan kita.

Andaikan lagi anda adalah orang yang suka presentasi, kerapkali diundang ceramah, hobi berpidato, berkotbah, mendongeng, sering diwawancarai wartawan, suka bersosialisasi, brainstorming, sering mendiskusikan ide-ide baru, membahas berita-berita heboh yang terbaru, itu semua juga benih-benih dari lahirnya sebuah buku. Apalagi jika anda adalah seorang public figure, punya pengalaman khusus yang menarik, serta layak dibagikan kepada orang lain. Itu semua modal yang bisa dimanfaatkan untuk mewujudkan buku best seller.

Tapi, bagaimana  jika –seandainya lagi nih– anda adalah kategori orang yang seumur hidup tidak pernah menyentuh bolpoint atau mesin ketik untuk menuliskan sesuatu? Itu pun bukan masalah! Menulis buku best seller tetap bukan sesuatu yang mustahil. Bagaimana mungkin? Mungkin saja! Sebab semua itu tergantung tekniknya.

Seperti yang akan kita diskusikan pada bab-bab berikutnya, menulis buku bukan semata-mata persoalan kemampuan menuliskan gagasan-gagasan. Benar bahwa menulis adalah basic skill yang perlu dikuasai, namun ada sejumlah aspek lain yang mempengaruhi penyusunan buku. Sebut misalnya aspek pemilihan topik atau tema, pemilihan format buku, penyediaan waktu menulis, pemrosesan ide, keterampilan membuat outline, eksplorasi bahan-bahan tulisan, teknik penulisan, teknik pengayaan buku, pemilihan judul, dll. Jika kita lemah di salah satu aspek tersebut, kita bisa menutupnya dengan teknik atau cara-cara tertentu. Yang pasti, tidak ada masalah penulisan buku yang tidak bisa dicarikan jalan pemecahannya.

Dulu saya punya persoalan dalam menulis artikel atau buku. Saya agak sulit menulis secara cepat dan hasilnya pun biasanya tidak gampang dicerna. Nuansa akademisnya masih kental sehingga kurang enak dibaca. Tapi setelah belajar dan mengembangkan sendiri teknik-teknik menulis cepat, saya baru sadar bahwa selama ini saya telah terbelenggu oleh keyakinan yang keliru mengenai penulisan buku. Sebelumnya, saya pikir menulis atau mengarang buku itu sulit!

Karena berpikir dan punya keyakinan seperti itu, menulis artikel apalagi menulis buku jadi benar-benar terasa sulit. Begitu saya belajar menulis secara terstruktur, suka membuat outline atau peta pikiran, serta mengasah teknik menulis cepat, maka menulis serasa bukan persoalan yang rumit seperti sebelumnya.

Saya sering menjumpai orang-orang yang memiliki bakat menulis, tetapi mereka tidak pernah menghasilkan karya dari bakatnya itu. Sebaliknya, ada pula orang yang merasa tidak berbakat tetapi karena ketekunannya berlatih dan menguasai teknik penulisan, akhirnya dia berhasil menulis buku atau karya-karya lainnya yang bermakna.

Jadi, sekecil apa pun bakat atau kemampuan menulis kita, semua bisa diasah, dilatih terus-menerus, dan diperbaiki tekniknya. Kemampuan juga bisa meningkat kalau kita selalu memperkaya wawasan, memperbanyak bahan bacaan, mempunyai contoh-contoh tulisan atau model penulis yang memotivasi kita.

Ternyata, latihan terus menerus, keberanian mencoba menuangkan gagasan sendiri, menemukan model yang bagus, serta keyakinan pada kemampuan diri itulah yang paling banyak berperan dalam mewujudkan mimpi-mimpi saya dalam dunia penulisan buku. Jadi, bukan semata-mata karena bakat! Jadi saya pun yakin, jika anda membeli dan membaca buku ini, sudah pasti anda punya hasrat besar untuk menulis buku best seller. Hasrat ini saja sudah merupakan modal dasar yang sangat penting untuk mewujudkan mimpi menulis buku best seller. Mari kita buktikan![ez: https://rcmbb.wordpress.com/%5D

Tips:

  1. Jangan memvonis diri tidak bakat atau tidak mampu menulis.
  2. Hilangkan anggapan-anggapan atau keyakinan yang salah mengenai proses penulisan.
  3. Bongkar lagi segala hal yang pernah anda hasilkan dan berbau tulisan. Itu bukti anda punya bakat dan kemampuan menulis.
  4. Miliki hasrat besar, tekad, dan kemauan untuk mempelajari teknik-teknik yang tepat.
  5. Temukan model tulisan dan pengarang yang bisa anda jadikan sebagai model atau sumber motivasi.