Tags

, , , , ,

Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller

Kaver buku “Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller” edisi perdana

PENDAHULUAN

Berhasil menyusun sebuah buku yang laris di pasaran, jadi best seller, adalah impian setiap pengarang atau penulis. Popularitas, penghargaan, kepuasan batin, kebanggaan, dan keuntungan finansial adalah ganjarannya. Sekalipun di Indonesia, ganjaran dan penghargaan bagi penulis buku yang sukses belum seheboh di negara-negara maju, namun keberhasilan membuat buku best seller saja tetap mempunyai makna tersendiri. Tak heran jika hasrat untuk melahirkan buku-buku best seller terus membara di benak para penulis buku.

Di Indonesia di mana produksi buku setahunnya diperkirakan mencapai  7.000 judul, untuk dapat disebut best seller memang masih beragam ukurannya. Sebabnya antara lain; faktor minat baca yang dianggap belum tinggi, masih rendahnya daya serap pasar, jumlah cetak buku rendah (non fiksi 2.000-6.000 dan fiksi 5000-10.000 eksemplar), serta belum adanya data yang akurat mengenai angka-angka penjualan buku. Sebagian penerbit menganggap, kalau satu judul buku mengalami cetak ulang –tak peduli berapa banyak dicetak dan berapa lama habis terjual– itu sudah  diklaim best seller. Penerbit lainnya menganggap, sebuah buku dinyatakan best seller jika cetakan pertamanya (3.000-5.000 eksemplar) habis terjual dalam waktu kurang dari enam bulan. Ikapi sendiri kabarnya menetapkan standar best seller jika terjual lebih dari 5.000 eksemplar.

Jika dibandingkan dengan standar industri perbukuan di negara-negara maju, standar best seller di Indonesia yang 5.000 eksemplar itu jelas tampak biasa saja. Tapi harus diakui, dengan tingkat minat baca yang ada, standar best seller itu sudah cukup memadai. Apalagi, perkembangan penjualan buku lima tahun terakhir ini semakin bagus sehingga muncul angka-angka penjualan buku fiksi dan non fiksi yang sangat fantastis.

Sebut misalnya judul-judul non fiksi yang layak disebut mega best seller, seperti ESQ (Ary Ginanjar) yang terjual lebih dari 250.000 eksemplar, Jakarta Undercover (Moamar Emka) 200.000 eksemplar, dan Aa Gym Apa Adanya (Aa Gym) 140.000 eksemplar. Berikutnya, Kupinang Engkau dengan Hamdalah dan Mencapai Pernikahan Barakah (Muhammad Fauzil Adhim), Kisah-Kisah Teladan untuk Keluarga (Dr Mulyanto), serta terjemahan Rich Dad Poor Dad (Robert T. Kiyosaki), masing-masing telah terjual di atas 100.000 eksemplar.

Sementara untuk fiksi, setahun terakhir muncul angka penjualan fantastis dari novel teenlit/chicklit seperti Fairish (Esti Kinasih) yang terjual lebih dari 66.000 eksemplar, Delaova 60.000 (Dyan Nuranindya) eksemplar, dan Me Versus High Wheels (Maria Ardelia) 40.000 eksemplar. Sukses pengarang-pengarang novel perempuan yang terakhir tadi menyamai sukses Supernova (Dewi Lestari) dan Saman (Ayu Utami).

Sukses sejumlah penulis fiksi dan non fiksi tadi, tak pelak mengundang rasa penasaran penulis-penulis lainnya. Apa sih rahasianya?

Buku sederhana ini semula ditulis untuk memberikan kita-kiat praktis dan semangat kepada para profesional yang hendak menulis buku. Saya memang sering menjumpai mereka yang punya hasrat besar untuk menulis buku, tapi selalu gagal mewujudkan impiannya. Alasan macam-macam; ya kesibukan, sulit mengatur waktu, susah mencari ide, tidak tahu memulai dari mana, dan masih banyak lagi. Nah, dalam proses editing naskah buku ini, muncul feedback agar juga dibahas mengenai aspek-apsek yang membuat sebuah buku menjadi best seller. Dari semula yang fokus pada sisi how to menulis buku, lalu berkembang menjadi how to menulis buku best seller.

Bukan hal mudah mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan sebuah buku bisa menjadi best seller atau tidak. Tapi dengan standar best seller Ikapi di atas, berikut pengalaman sebagai konsultan editorial dan telah menghasilkan dua buku best seller, serta hasil pengamatan terhadap tren maupun diskusi mendalam dengan sejumlah editor, penulis best seller, dan penerbit sukses, saya pun memberanikan diri menulis buku ini. Maka lahirlah buku Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller, yang setidaknya akan fokus pada tiga hal, yaitu motivasi bagi para profesional untuk menulis buku, strategi atau teknik menulis yang cocok dan efektif untuk mereka, serta kisi-kisi dan kiat-kiat untuk menghasilkan buku best seller.

Buku ini membatasi diri pada pembahasan tentang motivasi menulis, kiat memproduksi ide kreatif, gaya penulisan, pemilihan tema, format buku, teknik penggalian bahan, dan teknik formulasi judul yang diyakini bakal mampu menghasilkan buku laris. Dari sisi strategi dan teknik penulisan buku, saya yakin resep dan kiat-kiat yang saya ungkapkan di buku ini akan cukup cespleng untuk mengatasi hambatan menulis, khususnya penulisan buku-buku non fiksi. Tetapi untuk menjadikannya benar-benar best seller, diakui masih banyak faktor terlibat dan berpengaruh di dalamnya. Semisal menyangkut usaha-usaha ekstra yang dilakukan penulis sendiri dan pilihan strategi pemasaran oleh penerbit, yang memang tidak dibahas di buku ini.

Tujuan penulisan buku ini cukup sederhana. Pertama, saya ingin mengajak siapa pun yang akan atau sedang menulis buku, supaya sejak awal sudah berani mengagas dan menargetkan menulis buku best seller. Mengapa demikian? Alasannya adalah kaitan antara motivasi dan produktivitas dalam menulis. Jika kita mampu menghasilkan buku best seller, maka motivasi menulis akan jauh lebih besar, dan hal ini akan berpengaruh pada produktivitas kita dalam menulis karya-karya berikutnya. Sebaliknya jika buku kita tidak diapresiasi orang atau gagal di pasaran, jelas motivasi menulis akan merosot dan produktivitas pun terimbas. Ini berkait dengan tujuan berikutnya.

Kedua, saya ingin mengajak semakin banyak orang berlomba-lomba menulis buku. Saat menulis buku ini, impian saya demikian; taruhlah dalam setahun buku saya dibaca oleh 5.000 orang yang kemudian tergerak menulis buku best seller. Maka dalam setahun itu pula, bolehlah saya bermimpi akan muncul minimal 5.000 judul buku baru. Tahun berikutnya, taruhlah ke-5.000 judul buku baru itu sanggup menginsipirasi dua orang di sekeliling para penulisnya untuk menulis buku laris, maka tahun itu juga mungkin akan lahir 10.000 judul buku baru. Fantastik! Betapa kayanya bumi Indonesia tercinta ini dengan penulis-penulis baru. Industri perbukuan pun akan jauh lebih cerah dibanding yang sudah-sudah. Dan ini pasti ada dampaknya bagi perkembangan SDM dan kebangkitan Indonesia.

Nah, ayo ambil bagian dalam kerja besar bersama yang luar biasa ini. MARI MEMBUKUKAN REPUBLIK INDONESIA!

Edy Zaqeus