Tags

, , , , , , , , , , , ,

bank indonesia writing camp

Saya, Andrias Harefa, & Her Suharyanto mendampingi para staf Bank Indonesia dalam acara writing camp di Sheraton Hotel, Bandung, Jawa Barat. Peserta tampak dengan gembiranya memperlihatkan hasil kerja keras mereka menulis buku dalam tiga hari.

“Apa pun yang bisa anda lakukan, atau anda impikan bisa anda lakukan, mulailah. Keberanian mempunyai kejeniusan, kekuatan, dan keajaiban di dalam dirinya.”
J.W. von Goethe
(Pengarang Jerman)

Judul bab yang sedang anda baca ini aslinya adalah “Tak Perlu Nunggu Dipenjara”. Judul ini muncul saat saya berkelakar dengan sejumlah rekan yang banyak idenya, tapi tak jua mampu menelorkan sebuah buku pun. Saya teringat Arswendo Atmowiloto yang dapat “menikmati” hari-harinya di penjara dan justru mampu menuangkan kisahnya dalam buku Menghitung Hari – Hikmah Kebijaksanaan dalam Rumah Tahanan/Lembaga Pemasyarakatan. Mengapa mengambil contoh kisah Arswendo untuk bab ini? Waktu memang jadi masalah bagi orang-orang yang sangat sibuk sekaligus ingin menulis sendiri bukunya.

Tetapi, saya ingin menegaskan, asal ada tekad dan hasrat yang kuat, persoalan waktu pasti bisa ditaklukkan. Bab ini sengaja disusun khusus untuk memecahkan persoalan waktu. Memang, hampir semua orang sibuk dengan berbagai aktivitas harian sehingga waktu untuk membaca, apalagi menulis, sering tidak tersedia secara memadai. Tapi asalkan kita berani memerinci atau menghitung secara persis waktu paling efektif yang digunakan untuk bekerja, pasti akan kita temukan sisa waktu yang bisa dialokasikan untuk aktivitas penulisan buku. Bahkan, dari pengalaman saya membantu sejumlah klien, setelah mengikuti langkah-langkah sebagaimana saya sarankan, nyatalah bahwa waktu yang tersedia untuk menulis cukup lumayan.

Bagaimana mengukur kita punya waktu atau tidak? Sebenarnya ada tiga tipe orang sibuk. Pertama, tipe orang-orang yang sibuk total. Mereka ini hampir mustahil mengalokasikan waktu yang memadai untuk beraktivitas di luar urusan keseharian mereka. Kedua, tipe orang yang sibuk tetapi masih punya sedikit saja waktu luang, yang biasanya dihabiskan untuk rekreasi bersama keluarga atau menjalankan hobinya. Ketiga, tipe orang sibuk yang masih punya sedikit waktu luang, namun belum dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan produktif. Nah, mereka yang totaly and extremely busy, tentu tak bisa dipaksa untuk membaca apalagi menulis. Tipe pertama harus dibantu seorang profesional, sementara tipe kedua dan ketiga berkemungkinan besar mampu menulis bukunya sendiri.

Baik, mari kita telisik, apakah waktu menulis itu ada atau tidak. Silakan sediakan selembar kertas dan pensil, lalu jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini. Contoh-contoh pertanyaan ini ditujukan untuk orang-orang kantoran umumnya, tetapi bisa dimodifikasi menurut jenis pekerjaan, profesi, atau aktivitas lainnya. Cobalah menghitung rata-rata penggunaan waktu efektif dan sisa waktu yang mungkin ada dalam setiap jenis kegiatan yang ditanyakan:

Menghitung Penggunaan Waktu Efektif

 

 

Jenis Kegiatan

 

 

Menit Dipakai

 

Menit Sisa

Dari bangun pagi sampai ke kamar mandi
Dari kamar mandi sampai berganti baju/selesai berias
Waktu untuk sarapan pagi di rumah
Waktu dalam perjalanan ke kantor
Waktu ‘pemanasan’ sebelum mengerjakan pekerjaan kantor
Waktu yang biasa digunakan untuk rapat
Waktu yang dihabiskan untuk ngobrol atau makan siang
Waktu lembur di kantor
Perjalanan dari kantor ke rumah
Waktu untuk keluarga sebelum pergi tidur
Total waktu tidur dalam semalam

Jumlah

Nah, silahkan dihitung dan dievaluasi, apakah benar waktu yang ada sudah terkelola secara efektif dan maksimal. Jika kita teliti lebih jauh, kemungkinan besar kita masih bisa menemukan celah-celah waktu senggang dalam lima hari kerja kita. Khusus para profesional yang bekerja di Jakarta dan kota-kota besar umumnya, waktu tempuh dari rumah ke kantor atau sebaliknya, biasanya cukup panjang. Waktu di jalan itulah yang sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk menulis.

Tetapi di mana pun, walau hanya lima atau sepuluh menit, sisa waktu tetap bisa dimanfaatkan untuk merekam dan mengolah ide-ide tulisan. Kita juga bisa meneliti lagi, apakah seluruh aktivitas harian kita menuntut konsentrasi penuh, atau malah bisa disambi untuk melakukan aktivitas lainnya. Celah-celah waktu itu perlu dideteksi, dijumlahkan, dan hasilnya mungkin bisa dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas pengolahan ide atau menulis.

Sasaran kita berikutnya adalah memeriksa waktu libur; hari sabtu dan minggu. Mungkin ada yang terpaksa harus lembur atau ada kegiatan perusahaan pada hari libur. Ada juga yang memanfaatkan waktu libur khusus untuk istirahat, menjalankan hobi, berlibur bersama keluarga, atau malah untuk perjalanan dinas ke luar kota. Ini hal biasa bagi orang-orang sibuk. Walau demikian, kita tetap perlu menghitung celah waktu yang bisa kita dapatkan untuk menulis sesuatu. Memang tidak harus aktivitas menulis. Celah waktu juga bisa digunakan untuk pengamatan, menggali bahan, mencari ilham, membuat butiran ide (pointers), atau mendiskusikan ide dengan orang lain.

Aktivitas keseharian yang sangat menyibukkan sekalipun, sebenarnya bisa kita sinkronkan dengan proses kreatif kita dalam mencari ide penulisan buku. Semisal kita sedang mendiskusikan pekerjaan dengan rekan-rekan kerja. Tiba-tiba terlintas sebuah judul atau tema buku yang menarik. Jika temanya relevan, maka saat jeda kita bisa meminta komentar atau feedback mereka. Pertanyaan atau lontaran ide selintas saja kadang mendapat komentar yang cukup panjang. Adakalanya komentar-komentar itu bermanfaat, mempertajam, atau malah menggugurkan ide kita. Tak masalah bukan? Memanfaatkan waktu-waktu senggang seperti itu bisa kita lakukan di mana saja, di mobil, kafe, dalam lift, atau saat mengobrol di pojok-pojok ruang merokok. Suasana keakraban dalam pergaulan bisnis memungkinkan kita melemparkan topik-topik yang mudah sekali menarik minat orang untuk mengomentarinya.

Sambil mendengarkan pendapat orang-orang di sekitar kita, proses kreatif bisa berlangsung pula. Kita tinggal mengolah atau mencernanya dengan ide-ide sendiri. Dari cara-cara seperti ini kita bisa mendapatkan bahan tulisan gratis, berkesempatan menguji gagasan sendiri, dan yang pasti tidak kehilangan waktu kerja efektif. Menguji gagasan itu sangat penting. Terlepas feedback yang didapat nyambung atau tidak, namun aktivitas simultan ini benar-benar bisa merangsang proses kreatif kita.

Nah, jika kita mampu menjadikan segala medan, waktu, dan orang sebagai stimulator proses kreatif, yang bisa berjalan bersamaan secara selaras, maka menulis buku menjadi hal yang sangat mudah diwujudkan. Yang dibutuhkan kemudian adalah menetapkan waktu-waktu khusus, katakanlah 1-2 jam setiap harinya, untuk fokus menyusun bahan dan menuliskannya. Kita bisa mulai dengan sedikit ‘memaksa diri’ untuk menyelesaikan minimal satu halaman tulisan per satu kesempatan menulis. Ada beberapa teknik yang bisa kita pelajari. Semisal teknik penggalian ide, mengkonkretkan ide ke dalam butir-butir pemikiran, menyusun pointers menjadi outline (kerangka) buku, memilih bentuk buku, teknik menggali bahan tulisan, dan teknik penulisan cepat yang terbukti bisa mempermudah kita membuat naskah buku.

Pengalaman Hari Subagya, penulis buku laris Time to Change (BIP, 2005) dan Success Proposal (BIP, 2005) cukup menarik disimak. Hari selalu disibukkan oleh berbagai urusan di kantornya, yaitu sebuah perusahaan kosmetik papan atas. Sebagai seorang muslim, setiap malam ia bangun jam 2 dini hari untuk menjalankan sholat dan berdoa. Setelahnya, Hari selalu mendapatkan kondisi mental yang pas sekali untuk menulis. Maka, naskah Time to Change yang terdiri atas 99 tulisan inspiratif dan telah tiga kali cetak ulang itu berhasil diselesaikannya hanya dalam waktu tiga bulan. “Saya sedang mood dan menargetkan sehari menyelesaikan tiga bab,” jelas Hari kepada saya. Dengan pola yang sama, Hari berhasil menyelesaikan naskah buku berikutnya Success Proposal dalam waktu sebulan.

Sementara penulis produktif Anand Krishna –mantan pengusaha yang kini menekuni dunia meditasi dan spiritualitas– memilih untuk mendisiplinkan diri, yaitu selalu menyediakan waktu selama empat sampai lima jam setiap harinya untuk menulis. Ia biasa menulis antara jam 10 malam hingga dini hari. Kadang pagi pun ia gunakan untuk menulis. Hasilnya, tak kurang dari 40 buku telah diselesaikannya dan buku-buku tersebut ternyata disambut baik oleh pasar. Bahkan Anand berhasil menciptakan pasar tersendiri bagi buku-bukunya, yaitu mereka yang haus akan spiritualitas. Beberapa bukunya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama dan sempat ramai dibicarakan adalah 99 Nama Allah bagi Orang Modern, Membuka Pintu Hati: Surah Al-Fatihah bagi Orang Modern, Telaga Pencerahan di Tengah Gurun Kehidupan: Apresiasi Spritual terhadap Taurat, Injil, dan Al-Quran, Islam Esetoris: Kemuliaan dan Keindahan, dan Isa: Hidup & Ajaran Sang Mahisa. Buku-buku kontroversial tersebut laris, dikoleksi, dan terus dicari-cari orang.

Nah, teknik yang dipaparkan di atas sebenarnya bukan bertujuan untuk merampok waktu-waktu produktif atau waktu rekreasi kita. Justru yang ditawarkan adalah pemanfaatan waktu secara simultan antara proses kreatif menulis buku dengan segala kesibukan yang tak mungkin ditinggalkan. Prinsipnya adalah mengajak kita melakukan dua aktivitas pada saat yang sama atau hampir bersamaan, berikut menyediakan waktu khusus dan terprogram untuk menuntaskan dan mengolah bahan-bahan yang kita peroleh dari aktivitas sebelumnya.

Nah, sesibuk apa pun anda, rasanya selalu ada celah waktu untuk menulis. Kini yang perlu digembleng adalah motivasi, kedisiplinan berlatih mengeksplorasi ide, kemauan menuliskannya, dilanjutkan dengan penyusunan naskah buku dengan teknik-teknik yang mudah dan praktis.[Edy Zaqeus: http://rcmbb.wordpress.com/%5D

 

Tips:

  1. Efektifkan waktu kerja dan hindari adanya waktu yang terbuang sia-sia.
  2. Teliti setiap celah kegiatan dan temukan waktu-waktu luang yang selama ini tak termanfaatkan.
  3. Setiap hari sediakan waktu khusus menulis, bahkan bila waktu itu hanya cukup untuk menulis sebuah paragraf.
  4. Cobalah untuk menggali atau merangkai gagasan tulisan secara simultan saat anda sedang asyik mengerjakan aktivitas lain.
  5. Setiap penulis dituntut untuk membuat komitmen waktu penulisan, jadi buatlah komitmen waktu untuk menulis.
About these ads