Bab 4 Menambang Ide Saat Flow

Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller

Suasana pelatihan menulis buku di kalangan dosen muda, staf, & mahasiswa Fisip Universitas Sebelas Maret Solo. Kondisi flow bisa diciptakan dengan berbagai cara.

“Ilham datang dari kerja setiap hari.”
Charles Pierre Baudelaire
(Penyair Perancis)

Sebagai seorang jurnalis dan penulis profesional, saya sering menemukan dua situasi cukup unik saat berbincang dengan narasumber, klien, maupun rekan-rekan seprofesi. Situasi pertama, ada di antara mereka yang ingin sekali menulis buku, tapi merasa tidak memiliki ide tentang tema beku seperti apa yang menurut mereka layak ditulis. Situasi kedua, ada beberapa rekan yang dengan lincahnya mampu menambang ide tema buku, namun mereka tak pernah beranjak untuk mewujudkannya. Yang pertama merasa seolah blank alias tidak tahu tema apa yang sebaiknya digarap. Sementara yang kedua lebih dipenuhi oleh keragu-raguan atau kurangnya motivasi menulis.

Bagi seorang penulis, apalagi bila di kepalanya selalu terngiang-ngiang keinginan membuat buku best seller, ide yang bagus memang penting sekali peranannya. Tapi saya percaya, bahwa yang namanya ilham, inspirasi, atau ide-ide menarik itu berlimpah dan bisa didapat di banyak tempat. Rasanya, kita itu seperti dikelilingi oleh ladang gagasan yang siap dipanen oleh siapa saja yang cukup jeli untuk memanfaatkannya. Ladang itu bisa berupa celetukan ide dari kepala orang lain, internet, berita-berita menarik di media massa, siaran televisi, buku-buku, atau sumber-sumber lainnya. Kadang dengan sedikit pancingan pertanyaan saja, kebanyakan dari kita bisa menunjukkan betapa berlimpahnya ide di kepala kita.

Persoalannya, kadang kita sudah cukup puas dan bangga jika punya ide saja. Padahal, sebelum sebuah ide dieksekusi menjadi sebentuk karya, ide itu belum aktual nilainya. Nah, keberanian dan hasrat 100% untuk mewujudkan ide-ide adalah kata kuncinya. Ini berlaku pada proses kreatif menulis buku.

Banyak sekali tempat dan momentum menjadi sumber tercetusnya ide. Tak terbantahkan bahwa kamar mandi sering menjadi tempat yang membuat kita seperti dihujani oleh ide-ide menantang. Kadangkala saat gosok gigi, keramas, menikmati guyuran air di kepala, saat bersenandung, berendam di bak mandi, atau bersantai dengan pelampung di kolam renang, banyak ide berseliweran. Yang lain barangkali pernah menemukan eureka (percikan ide bagus atau pemecahan masalah) ketika meditasi, menikmati perjalanan jauh, melihat pemandangan alam, menikmati musik, film, karya seni, acara televisi, berselancar di internet, berdiskusi, brainstorming, bercanda dengan teman, atau saat mengamati sesuatu yang menarik perhatian.

Yang unik, dan saya berulang kali mengalami hal ini, ide-ide bagus bahkan bisa muncul saat seseorang sedang konsentrasi bekerja. Inilah situasi yang oleh Profesor Mihaly Csikszentmihalyi, pengarang buku Creativity – Flow and the Psychology of Discovery and Invention, digambarkan sebagai keadaan flow atau sedang mengalir. Dalam situasi flow ini, biasanya kita sedang asyik-asyiknya mengerjakan sesuatu dalam tingkat konsentrasi yang tinggi. Lalu kilasan ide-ide tertentu mendadak muncul tanpa kita mengundangnya. Sekelebat saja tapi seringkali begitu memikat perhatian kita. Akibatnya, kita seperti sedang mengalami jeda sejenak, lalu terhanyut oleh kilasan inspirasi yang samar-samar dan masih berbentuk khayalan tadi.

Pada situasi flow ini, inspirasi atau gagasan bisa mengalir begitu derasnya. Jika berhasil mempertahankan keadaan ini, terkadang ide yang didapat bisa komplit dan detail. Kalau kita sedang bagus mood-nya, tubuh segar bugar, antusiasme tinggi, dan apa yang kita kerjakan itu membuat kita senang melakukannya, sangat menarik perhatian kita, maka kita akan mudah sekali mencapai kondisi flow. Yang menarik, disadari atau tidak, umumnya kita pernah atau bahkan sering mengalami kondisi flow seperti ini. Bukan cuma seniman atau penulis yang sering merasakan flow, tapi semua orang dengan beragam profesi dan bidang pekerjaan.

Saya sendiri sering mengalami situasi-situasi yang agak unik seperti ini. Tahukah anda, ide dan outline buku ini saya dapatkan justru saat saya sedang dikejar deadline untuk menyelesaikan dua buletin internal yang saya tangani. Anda bisa bayangkan, saya sempat tegang manakala deadline di depan mata, tetapi belum semua materi tulisan bisa saya dapatkan. Anehnya, saat dilanda ketegangan itu, justru ada ide yang begitu menggoda untuk diwujudkan. “Wah… ini pasti jadi buku best seller!” batin saya waktu itu. Aliran ide buku itu muncul seperti gambar-gambar film di kepala saya, yang memberitahukan bagaimana format buku harus disusun dan ditulis dengan cepat. Komplit sekali, mulai dari judul besar sampai isi bab demi bab, dari pengantar hingga penutup, contoh-contoh yang perlu dibahas, semuanya terasa mengalir begitu saja!

Alhasil, saya tidak melewatkan untuk mengambil jeda dan buru-buru mencatat aliran ide tersebut. Hanya makan waktu beberapa menit, ide itu sudah tampak lengkap dan siap digarap. Yang luar biasa, saya merasakan kegairahan baru karena eksplorasi ide tadi. Efeknya, saya malah semakin bersemangat untuk segera menyelesaikan pekerjaan sebelumnya, dan segera ingin merealisasikan gagasan yang baru lahir.

Beberapa rekan saya juga sering merasakan kejadian seperti ini. Mendadak mereka mendapat ilham jutsru saat sedang disibukkan oleh suatu pekerjaan yang menuntut konsentrasi tinggi. Justru saat mereka sedang sibuk menulis berita, mengaudit keuangan perusahaan, menganalisis proposal bisnis, sibuk berdebat, bahkan saat bicara di atas mimbar, tiba-tiba bermunculan ide-ide yang tidak ada relevansinya dengan apa yang sedang mereka kerjakan.

Apa yang ingin saya tegaskan adalah bahwa kesibukan kita pada suatu obyek tertentu sama sekali tidak menutup kemungkinan berlangsungnya proses kreatif di otak kita. Konsentrasi pada satu pekerjaan, bahkan pada situasi-situasi yang cenderung menekan sekalipun, ternyata tidak selalu menghentikan katup-katup sumber kreatifitas kita. Fakta ini menegaskan efektifitas teknik menggali ide secara simultan dengan aktivitas lainnya, seperti yang saya singgung pada Bab 3.

Jadi, ide tema buku sesungguhnya bukan barang langka, termasuk bagi orang-orang yang sangat disibukkan oleh aktivitas-aktivitas kesehariannya. Persoalannya kemudian, apakah ide-ide tersebut cukup memadai untuk dikreasikan menjadi sebuah buku yang laris di pasaran? Saya berpendapat bahwa sebuah ide layak dikembangkan menjadi buku jika secara garis besar isinya bisa menambah keterampilan pembaca dalam memecahkan masalah, membangkitkan motivasi, menggugah kesadaran, menumbuhkan semangat belajar, merangsang kreatifitas, menstimulasi munculnya gagasan baru, menghibur, atau melayani minat khusus lainnya.

Apakah tema-tema yang mempunyai fungsi seperti itu selalu menarik minat penerbit atau bisa membuat buku laris di pasar? Memang tidak semua tema buku yang memenuhi fungsi di atas otomatis akan menarik minat penerbit atau calon pembeli. Tetapi sebuah ide buku tetap perlu dieksplorasi, dicari kekuatan dan kelemahannya, dan tentu saja proyeksi tanggapan pasar. Kita akan bahas persoalan ini lebih mendalam pada bab-bab mendatang.

Begitu berharganya sebuah ide tema buku, sehingga jangan sampai kita melewatkannya. Setiap kali terlintas ide tema buku, sebaiknya kita tangkap dan dicatat garis besarnya. Sebisa mungkin, ilham atau ide tadi ditulis di atas secarik kertas, di menu pesan handphone, diketik di PDA, komunikator, laptop, atau malah langsung  dieksplor jika memungkinkan. Nah, setiap ada kesempatan jeda dari kesibukan, misalnya saat ngopi di kafe bareng rekan bisnis, saat menunggu pemberangkatan kereta api atau pesawat, saat di lift, saat di mobil, kita bisa merenungkan ulang ide-ide tadi. Bisa pula kita cari komentar dari orang di sekeliling kita tentang ide itu. Tak perlu detail. Yang penting, kita bisa memperkirakan apakah topik itu cukup menarik perhatian orang lain. Ragam komentar itu bisa dijadikan katalisator untuk mempertajam ide tema buku kita.

Saya sendiri selalu mencatat, minimal mengingat-ingat ide tema atau judul buku yang terlintas saat melakukan berbagai aktivitas di mana pun berada saat itu. Hasilnya, kini saya memiliki lebih dari 500 ide tema atau judul buku yang tersimpan di sebuah buku catatan khusus. Apa gunanya? Tak jarang tema buku atau judul-judul itu menjadi sumber inspirasi bagi lahirnya banyak artikel pendek saya. Kadang sekadar terpakai sebagai variasi judul dalam laporan-laporan buletin yang saya kelola atau menjadi tulisan-tulisan pendek di website Pembelajar.Com. Kadang bahkan bisa saling berkaitan dengan judul-judul lainnya sehingga terangkai menjadi sebuah buku sungguhan. Saya juga temukan bahwa judul-judul itu kadang lebih dulu ditulis menjadi buku oleh penulis-penulis lain.

Yang saya rasakan, lahirnya sebuah ide tema atau judul buku pun sanggup memotivasi saya untuk menuliskannya dalam sebentuk artikel maupun buku. Jadi, mulai sekarang, ada baiknya kita lebih menghargai setiap ide yang terlintas manakala kita tengah disibukkan dengan pekerjaan, profesi, atau hobi kita. Saat membaca, mengamati, menemukan, atau mengalami pengalaman-pengalaman unik pun, sebaiknya kita siap menangkap daya tariknya. Tidak perlu terlalu prematur mengadilinya sebelum kita memberi mereka kesempatan untuk berkembang cukup matang. Cukup tuliskan, endapkan, renungkan, dan kembangkan bila saatnya sudah tepat.[ez: http://rcmbb.wordpress.com/]

Tips:

  1. Ide, gagasan, ilham, atau pertanyaan bisa menjadi modal dasar bagi lahirnya sebuah buku laris.
  2. Catat semua ide yang terlintas manakala anda dalam kondisi flow.
  3. Jangan adili ide anda sebelum anda memberinya kesempatan menjadi matang.
  4. Terkadang ide-ide bagus disia-siakan…rawatlah dan manfaatkan ide tersebut.
  5. Jika menemukan sebuah ide menarik, eksplor lebih jauh dan carilah feedback yang bagus.

Bab 3 Kuncinya, Sediakan Waktu!

bank indonesia writing camp

Saya, Andrias Harefa, & Her Suharyanto mendampingi para staf Bank Indonesia dalam acara writing camp di Sheraton Hotel, Bandung, Jawa Barat. Peserta tampak dengan gembiranya memperlihatkan hasil kerja keras mereka menulis buku dalam tiga hari.

“Apa pun yang bisa anda lakukan, atau anda impikan bisa anda lakukan, mulailah. Keberanian mempunyai kejeniusan, kekuatan, dan keajaiban di dalam dirinya.”
J.W. von Goethe
(Pengarang Jerman)

Judul bab yang sedang anda baca ini aslinya adalah “Tak Perlu Nunggu Dipenjara”. Judul ini muncul saat saya berkelakar dengan sejumlah rekan yang banyak idenya, tapi tak jua mampu menelorkan sebuah buku pun. Saya teringat Arswendo Atmowiloto yang dapat “menikmati” hari-harinya di penjara dan justru mampu menuangkan kisahnya dalam buku Menghitung Hari – Hikmah Kebijaksanaan dalam Rumah Tahanan/Lembaga Pemasyarakatan. Mengapa mengambil contoh kisah Arswendo untuk bab ini? Waktu memang jadi masalah bagi orang-orang yang sangat sibuk sekaligus ingin menulis sendiri bukunya.

Tetapi, saya ingin menegaskan, asal ada tekad dan hasrat yang kuat, persoalan waktu pasti bisa ditaklukkan. Bab ini sengaja disusun khusus untuk memecahkan persoalan waktu. Memang, hampir semua orang sibuk dengan berbagai aktivitas harian sehingga waktu untuk membaca, apalagi menulis, sering tidak tersedia secara memadai. Tapi asalkan kita berani memerinci atau menghitung secara persis waktu paling efektif yang digunakan untuk bekerja, pasti akan kita temukan sisa waktu yang bisa dialokasikan untuk aktivitas penulisan buku. Bahkan, dari pengalaman saya membantu sejumlah klien, setelah mengikuti langkah-langkah sebagaimana saya sarankan, nyatalah bahwa waktu yang tersedia untuk menulis cukup lumayan.

Bagaimana mengukur kita punya waktu atau tidak? Sebenarnya ada tiga tipe orang sibuk. Pertama, tipe orang-orang yang sibuk total. Mereka ini hampir mustahil mengalokasikan waktu yang memadai untuk beraktivitas di luar urusan keseharian mereka. Kedua, tipe orang yang sibuk tetapi masih punya sedikit saja waktu luang, yang biasanya dihabiskan untuk rekreasi bersama keluarga atau menjalankan hobinya. Ketiga, tipe orang sibuk yang masih punya sedikit waktu luang, namun belum dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan produktif. Nah, mereka yang totaly and extremely busy, tentu tak bisa dipaksa untuk membaca apalagi menulis. Tipe pertama harus dibantu seorang profesional, sementara tipe kedua dan ketiga berkemungkinan besar mampu menulis bukunya sendiri.

Baik, mari kita telisik, apakah waktu menulis itu ada atau tidak. Silakan sediakan selembar kertas dan pensil, lalu jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini. Contoh-contoh pertanyaan ini ditujukan untuk orang-orang kantoran umumnya, tetapi bisa dimodifikasi menurut jenis pekerjaan, profesi, atau aktivitas lainnya. Cobalah menghitung rata-rata penggunaan waktu efektif dan sisa waktu yang mungkin ada dalam setiap jenis kegiatan yang ditanyakan:

Menghitung Penggunaan Waktu Efektif

 

 

Jenis Kegiatan

 

 

Menit Dipakai

 

Menit Sisa

Dari bangun pagi sampai ke kamar mandi
Dari kamar mandi sampai berganti baju/selesai berias
Waktu untuk sarapan pagi di rumah
Waktu dalam perjalanan ke kantor
Waktu ‘pemanasan’ sebelum mengerjakan pekerjaan kantor
Waktu yang biasa digunakan untuk rapat
Waktu yang dihabiskan untuk ngobrol atau makan siang
Waktu lembur di kantor
Perjalanan dari kantor ke rumah
Waktu untuk keluarga sebelum pergi tidur
Total waktu tidur dalam semalam

Jumlah

Nah, silahkan dihitung dan dievaluasi, apakah benar waktu yang ada sudah terkelola secara efektif dan maksimal. Jika kita teliti lebih jauh, kemungkinan besar kita masih bisa menemukan celah-celah waktu senggang dalam lima hari kerja kita. Khusus para profesional yang bekerja di Jakarta dan kota-kota besar umumnya, waktu tempuh dari rumah ke kantor atau sebaliknya, biasanya cukup panjang. Waktu di jalan itulah yang sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk menulis.

Tetapi di mana pun, walau hanya lima atau sepuluh menit, sisa waktu tetap bisa dimanfaatkan untuk merekam dan mengolah ide-ide tulisan. Kita juga bisa meneliti lagi, apakah seluruh aktivitas harian kita menuntut konsentrasi penuh, atau malah bisa disambi untuk melakukan aktivitas lainnya. Celah-celah waktu itu perlu dideteksi, dijumlahkan, dan hasilnya mungkin bisa dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas pengolahan ide atau menulis.

Sasaran kita berikutnya adalah memeriksa waktu libur; hari sabtu dan minggu. Mungkin ada yang terpaksa harus lembur atau ada kegiatan perusahaan pada hari libur. Ada juga yang memanfaatkan waktu libur khusus untuk istirahat, menjalankan hobi, berlibur bersama keluarga, atau malah untuk perjalanan dinas ke luar kota. Ini hal biasa bagi orang-orang sibuk. Walau demikian, kita tetap perlu menghitung celah waktu yang bisa kita dapatkan untuk menulis sesuatu. Memang tidak harus aktivitas menulis. Celah waktu juga bisa digunakan untuk pengamatan, menggali bahan, mencari ilham, membuat butiran ide (pointers), atau mendiskusikan ide dengan orang lain.

Aktivitas keseharian yang sangat menyibukkan sekalipun, sebenarnya bisa kita sinkronkan dengan proses kreatif kita dalam mencari ide penulisan buku. Semisal kita sedang mendiskusikan pekerjaan dengan rekan-rekan kerja. Tiba-tiba terlintas sebuah judul atau tema buku yang menarik. Jika temanya relevan, maka saat jeda kita bisa meminta komentar atau feedback mereka. Pertanyaan atau lontaran ide selintas saja kadang mendapat komentar yang cukup panjang. Adakalanya komentar-komentar itu bermanfaat, mempertajam, atau malah menggugurkan ide kita. Tak masalah bukan? Memanfaatkan waktu-waktu senggang seperti itu bisa kita lakukan di mana saja, di mobil, kafe, dalam lift, atau saat mengobrol di pojok-pojok ruang merokok. Suasana keakraban dalam pergaulan bisnis memungkinkan kita melemparkan topik-topik yang mudah sekali menarik minat orang untuk mengomentarinya.

Sambil mendengarkan pendapat orang-orang di sekitar kita, proses kreatif bisa berlangsung pula. Kita tinggal mengolah atau mencernanya dengan ide-ide sendiri. Dari cara-cara seperti ini kita bisa mendapatkan bahan tulisan gratis, berkesempatan menguji gagasan sendiri, dan yang pasti tidak kehilangan waktu kerja efektif. Menguji gagasan itu sangat penting. Terlepas feedback yang didapat nyambung atau tidak, namun aktivitas simultan ini benar-benar bisa merangsang proses kreatif kita.

Nah, jika kita mampu menjadikan segala medan, waktu, dan orang sebagai stimulator proses kreatif, yang bisa berjalan bersamaan secara selaras, maka menulis buku menjadi hal yang sangat mudah diwujudkan. Yang dibutuhkan kemudian adalah menetapkan waktu-waktu khusus, katakanlah 1-2 jam setiap harinya, untuk fokus menyusun bahan dan menuliskannya. Kita bisa mulai dengan sedikit ‘memaksa diri’ untuk menyelesaikan minimal satu halaman tulisan per satu kesempatan menulis. Ada beberapa teknik yang bisa kita pelajari. Semisal teknik penggalian ide, mengkonkretkan ide ke dalam butir-butir pemikiran, menyusun pointers menjadi outline (kerangka) buku, memilih bentuk buku, teknik menggali bahan tulisan, dan teknik penulisan cepat yang terbukti bisa mempermudah kita membuat naskah buku.

Pengalaman Hari Subagya, penulis buku laris Time to Change (BIP, 2005) dan Success Proposal (BIP, 2005) cukup menarik disimak. Hari selalu disibukkan oleh berbagai urusan di kantornya, yaitu sebuah perusahaan kosmetik papan atas. Sebagai seorang muslim, setiap malam ia bangun jam 2 dini hari untuk menjalankan sholat dan berdoa. Setelahnya, Hari selalu mendapatkan kondisi mental yang pas sekali untuk menulis. Maka, naskah Time to Change yang terdiri atas 99 tulisan inspiratif dan telah tiga kali cetak ulang itu berhasil diselesaikannya hanya dalam waktu tiga bulan. “Saya sedang mood dan menargetkan sehari menyelesaikan tiga bab,” jelas Hari kepada saya. Dengan pola yang sama, Hari berhasil menyelesaikan naskah buku berikutnya Success Proposal dalam waktu sebulan.

Sementara penulis produktif Anand Krishna –mantan pengusaha yang kini menekuni dunia meditasi dan spiritualitas– memilih untuk mendisiplinkan diri, yaitu selalu menyediakan waktu selama empat sampai lima jam setiap harinya untuk menulis. Ia biasa menulis antara jam 10 malam hingga dini hari. Kadang pagi pun ia gunakan untuk menulis. Hasilnya, tak kurang dari 40 buku telah diselesaikannya dan buku-buku tersebut ternyata disambut baik oleh pasar. Bahkan Anand berhasil menciptakan pasar tersendiri bagi buku-bukunya, yaitu mereka yang haus akan spiritualitas. Beberapa bukunya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama dan sempat ramai dibicarakan adalah 99 Nama Allah bagi Orang Modern, Membuka Pintu Hati: Surah Al-Fatihah bagi Orang Modern, Telaga Pencerahan di Tengah Gurun Kehidupan: Apresiasi Spritual terhadap Taurat, Injil, dan Al-Quran, Islam Esetoris: Kemuliaan dan Keindahan, dan Isa: Hidup & Ajaran Sang Mahisa. Buku-buku kontroversial tersebut laris, dikoleksi, dan terus dicari-cari orang.

Nah, teknik yang dipaparkan di atas sebenarnya bukan bertujuan untuk merampok waktu-waktu produktif atau waktu rekreasi kita. Justru yang ditawarkan adalah pemanfaatan waktu secara simultan antara proses kreatif menulis buku dengan segala kesibukan yang tak mungkin ditinggalkan. Prinsipnya adalah mengajak kita melakukan dua aktivitas pada saat yang sama atau hampir bersamaan, berikut menyediakan waktu khusus dan terprogram untuk menuntaskan dan mengolah bahan-bahan yang kita peroleh dari aktivitas sebelumnya.

Nah, sesibuk apa pun anda, rasanya selalu ada celah waktu untuk menulis. Kini yang perlu digembleng adalah motivasi, kedisiplinan berlatih mengeksplorasi ide, kemauan menuliskannya, dilanjutkan dengan penyusunan naskah buku dengan teknik-teknik yang mudah dan praktis.[ez: http://rcmbb.wordpress.com/]

 

Tips:

  1. Efektifkan waktu kerja dan hindari adanya waktu yang terbuang sia-sia.
  2. Teliti setiap celah kegiatan dan temukan waktu-waktu luang yang selama ini tak termanfaatkan.
  3. Setiap hari sediakan waktu khusus menulis, bahkan bila waktu itu hanya cukup untuk menulis sebuah paragraf.
  4. Cobalah untuk menggali atau merangkai gagasan tulisan secara simultan saat anda sedang asyik mengerjakan aktivitas lain.
  5. Setiap penulis dituntut untuk membuat komitmen waktu penulisan, jadi buatlah komitmen waktu untuk menulis.

Bab 2 Semua Orang Berbakat Menulis

resep cespleng menulis buku bestseller

Johanes Ariffin Wijaya (motivator & penulis produktif), Edy Zaqeus, Endany Setyati (penulis "Surga buat Habibie"), Melly Kiong (Parent coach & penulis "Cara Kreatif Mendidik Anak ala Melly Kiong"), & Soegeanto Tan (penulis "Master 18")

“Yang mungkin diperlukan bukanlah suatu ‘bakat’ istimewa, tetapi lebih pada keinginan dan minat yang besar untuk mau belajar, membangun kebiasaan menuangkan gagasan lewat tulisan.”
Andrias Harefa
(Penulis Buku-buku Best Seller)

Sungguh saya tidak ingin anda berlama-lama membaca bab ini. Hampir dalam setiap pembahasan mengenai tulis-menulis, orang bertanya atau berargumentasi soal perlu tidaknya bakat menulis. Saya banyak menemukan keluhan semacam ini dari orang-orang sibuk yang berhasrat sekali menulis buku. Perdebatan apakah perlu ada bakat dulu baru bicara menulis buku sesungguhnya tidak berguna. Katakanlah kita memvonis diri sendiri tidak berbakat, kemudian orang lain mengiyakan saja cap yang kita buat sendiri tadi. Hasilnya, menulis buku benar-benar akan tinggal impian belaka. Jika sudah memvonis diri tak berbakat menulis, tak mampu, tak ada waktu, tak ada ide, maka membuat buku tidak lagi gampang jadinya.

Bagi saya, soal mampu atau tidak mampu, bakat atau tidak bakat, kadang itu hanya soal konstruksi mental yang tidak pas atau keliru sama sekali. Terutama dalam konteks penulisan buku-buku non fiksi, soal bakat menulis sebenarnya relatif tidak menentukan. Esensinya tetap pada soal motivasi dan konstruksi mental. Jika konstruksi mental kita sudah tidak pas, biasanya memang akan sulit melihat peluang-peluang yang ada. Padahal, peluang itu bisa dimanfaatkan untuk merealisasikan gagasan kita.

Jadi, sejak awal penting sekali membenahi keyakinan kita. Menulis buku laris tidaklah sesulit yang dibayangkan banyak orang. Tidak diperlukan kemampuan-kemampuan ekstra untuk melahirkan buku semacam itu. Yakin saja, semua orang bisa menulis buku, dengan satu dan lain cara. Contoh-contoh pada bab sebelumnya telah membukakan wawasan kita, bahwa dari segala macam profesi, latar belakang sosial, pendidikan, bahkan latar belakang usia pun, ternyata tidak begitu menghalangi orang untuk menulis buku yang digemari pasar.

Yang diperlukan adalah kebulatan tekad untuk menulis. Bila perlu belajar menulis dari nol. Tekun berlatih menulis apa saja, menemukan tema-tema yang menarik perhatian kita, serta menggunakan teknik-teknik yang tepat dan sesuai dengan kemampuan kita.

Saya yakin, jika kita pernah menulis catatan harian, surat cinta, puisi, pantun, atau membuat ringkasan pelajaran, itu semua merupakan cikal bakal penulisan buku. Apalagi kalau kita pernah menulis surat pembaca di media massa, menulis makalah, resensi buku, menyusun skripsi, itu lebih memudahkan lagi. Pernah atau terbiasa menyusun pidato sendiri, menyusun rencana bisnis, menulis laporan, atau membuat presentasi, sekali lagi itu juga berarti bukti “bakat” kita untuk menulis buku. Semua aktivitas –yang mungkin kita anggap sepele– itu sebenarnya merupakan bahan-bahan atau kemampuan dasar, yang potensial untuk dikembangkan lagi. Kita tinggal mengasah, lalu memilih teknik yang tepat, dan kemudian dilanjutkan dengan menulis.

Andaikan anda adalah orang yang menguasai profesi atau bidang tertentu yang unik, memiliki hobi yang menarik, punya kemampuan khusus yang layak jual, suka mendiskusikan hal-hal tadi, suka membimbing atau melatih orang lain untuk melakukannya, dan sangat senang melakukannya, maka peluang besar menulis buku sudah di tangan kita.

Andaikan lagi anda adalah orang yang suka presentasi, kerapkali diundang ceramah, hobi berpidato, berkotbah, mendongeng, sering diwawancarai wartawan, suka bersosialisasi, brainstorming, sering mendiskusikan ide-ide baru, membahas berita-berita heboh yang terbaru, itu semua juga benih-benih dari lahirnya sebuah buku. Apalagi jika anda adalah seorang public figure, punya pengalaman khusus yang menarik, serta layak dibagikan kepada orang lain. Itu semua modal yang bisa dimanfaatkan untuk mewujudkan buku best seller.

Tapi, bagaimana  jika –seandainya lagi nih– anda adalah kategori orang yang seumur hidup tidak pernah menyentuh bolpoint atau mesin ketik untuk menuliskan sesuatu? Itu pun bukan masalah! Menulis buku best seller tetap bukan sesuatu yang mustahil. Bagaimana mungkin? Mungkin saja! Sebab semua itu tergantung tekniknya.

Seperti yang akan kita diskusikan pada bab-bab berikutnya, menulis buku bukan semata-mata persoalan kemampuan menuliskan gagasan-gagasan. Benar bahwa menulis adalah basic skill yang perlu dikuasai, namun ada sejumlah aspek lain yang mempengaruhi penyusunan buku. Sebut misalnya aspek pemilihan topik atau tema, pemilihan format buku, penyediaan waktu menulis, pemrosesan ide, keterampilan membuat outline, eksplorasi bahan-bahan tulisan, teknik penulisan, teknik pengayaan buku, pemilihan judul, dll. Jika kita lemah di salah satu aspek tersebut, kita bisa menutupnya dengan teknik atau cara-cara tertentu. Yang pasti, tidak ada masalah penulisan buku yang tidak bisa dicarikan jalan pemecahannya.

Dulu saya punya persoalan dalam menulis artikel atau buku. Saya agak sulit menulis secara cepat dan hasilnya pun biasanya tidak gampang dicerna. Nuansa akademisnya masih kental sehingga kurang enak dibaca. Tapi setelah belajar dan mengembangkan sendiri teknik-teknik menulis cepat, saya baru sadar bahwa selama ini saya telah terbelenggu oleh keyakinan yang keliru mengenai penulisan buku. Sebelumnya, saya pikir menulis atau mengarang buku itu sulit!

Karena berpikir dan punya keyakinan seperti itu, menulis artikel apalagi menulis buku jadi benar-benar terasa sulit. Begitu saya belajar menulis secara terstruktur, suka membuat outline atau peta pikiran, serta mengasah teknik menulis cepat, maka menulis serasa bukan persoalan yang rumit seperti sebelumnya.

Saya sering menjumpai orang-orang yang memiliki bakat menulis, tetapi mereka tidak pernah menghasilkan karya dari bakatnya itu. Sebaliknya, ada pula orang yang merasa tidak berbakat tetapi karena ketekunannya berlatih dan menguasai teknik penulisan, akhirnya dia berhasil menulis buku atau karya-karya lainnya yang bermakna.

Jadi, sekecil apa pun bakat atau kemampuan menulis kita, semua bisa diasah, dilatih terus-menerus, dan diperbaiki tekniknya. Kemampuan juga bisa meningkat kalau kita selalu memperkaya wawasan, memperbanyak bahan bacaan, mempunyai contoh-contoh tulisan atau model penulis yang memotivasi kita.

Ternyata, latihan terus menerus, keberanian mencoba menuangkan gagasan sendiri, menemukan model yang bagus, serta keyakinan pada kemampuan diri itulah yang paling banyak berperan dalam mewujudkan mimpi-mimpi saya dalam dunia penulisan buku. Jadi, bukan semata-mata karena bakat! Jadi saya pun yakin, jika anda membeli dan membaca buku ini, sudah pasti anda punya hasrat besar untuk menulis buku best seller. Hasrat ini saja sudah merupakan modal dasar yang sangat penting untuk mewujudkan mimpi menulis buku best seller. Mari kita buktikan![ez: http://rcmbb.wordpress.com/]

Tips:

  1. Jangan memvonis diri tidak bakat atau tidak mampu menulis.
  2. Hilangkan anggapan-anggapan atau keyakinan yang salah mengenai proses penulisan.
  3. Bongkar lagi segala hal yang pernah anda hasilkan dan berbau tulisan. Itu bukti anda punya bakat dan kemampuan menulis.
  4. Miliki hasrat besar, tekad, dan kemauan untuk mempelajari teknik-teknik yang tepat.
  5. Temukan model tulisan dan pengarang yang bisa anda jadikan sebagai model atau sumber motivasi.

Bab 1 Menulis Buku Best Seller Itu Gampang

alexandra dewi

Sahabat saya Alexandra Dewi (memegang buku), yang baru selesai meluncurkan buku kelimanya "It's Complicated" (GPU, 2010), awalnya tidak menyangka & tidak percaya diri menulis buku. Begitu berhasil dengan buku pertamanya "I Beg Your Prada", semangatnya menulis bertambah.

Saya kenal dengan banyak orang yang tidak bisa ketika mereka mau, karena mereka tidak melakukannya ketika mereka bisa.”

Francois Rabelais

(Pengarang Perancis)

Apa yang pertama membuat saya tergerak menulis buku unik ini? Tak lain adalah sebuah perbincangan hangat di ruang tamu Gedung Kompas-Gramedia lt.4 pada akhir 2003 lalu. Saya bertemu dua teman lama yang berprofesi sebagai peneliti, dan berdiskusi mengenai situasi ekonomi-politik menjelang Pemilu 2004. Sungguh, rasanya tak sejengkal isu pun bakal terlewat jika sedang asyik berdiskusi dengan para intelektual seperti mereka. Kedua rekan saya itu sangat antusias, sambung-menyambung argumentasinya, dan memperdebatkan begitu banyak isu menarik yang hendak dituangkan dalam bentuk tulisan atau buku politik.

Beberapa ide yang sempat mereka kemukakan antara lain adalah membuat buku track record dan janji-janji para politisi kondang, rapor merah partai-partai, catatan pemilu dari tahun ke tahun, humor politik, sampai ide buku tentang pariwisata klenik. “Kalau dibukukan, rasanya tema-tema tadi pasti digemari orang. Bisa-bisa jadi buku best seller…” ujar teman saya bersemangat sekali. Antusiasme diskusi membuat segalanya menjadi menggairahkan dan seolah begitu mudah diwujudkan. Tentu saja saya sambut hangat ide-ide teman-teman saya ini. Maklum, keduanya setiap hari bergelut dengan informasi terbaru, akses datanya tak terbantahkan, penguasaan metodologi penelitian bisa diandalkan, dan menulis sudah merupakan kegiatan keseharian mereka. Jadi, tunggu apa lagi?

Namun beberapa menit setelah antusiasme kami berhasil mengeksplorasi ide-ide itu lebih jauh lagi, mulailah tersembul segala ‘hambatan’. Tampaknya, hambatan itu mereka sendiri yang menciptakan dan akhirnya mengubur sendiri keinginan membuat buku-buku menarik tersebut. Tidak ada waktu, sibuk kuliah lagi, tidak bisa konsentrasi, data kurang, data belum tersedia, bayangan rumitnya menyusun buku, pernah macet saat mencoba, sampai perasaan terlalu berat jika harus menuangkan ide-ide itu dalam bentuk buku. Alhasil, ide membuat buku laris menguap begitu cepatnya, secepat datangnya ide-ide itu pada awalnya. Yang lebih menggemaskan lagi, tak lama kemudian justru ada penulis lain –yang tidak pernah sekalipun bertukar ide dengan mereka– yang berhasil menulis buku best seller dengan tema sama persis dengan ide-ide mereka sebelumnya.

Beragam latar belakang orang pernah menyampaikan kepada saya tentang hasrat mereka untuk menulis buku. Sebut misalnya seorang pemasar properti dan agen asuransi senior, yang sangat sukses dan ingin sekali membukukan kisahnya. Ada pula presiden direktur perusahaan direct selling bermimpi membuat buku penjualan yang sangat lengkap. Ada lagi wakil presiden direktur yang ingin membuat buku marketing. Lalu seorang trainer begitu berhasrat membuat buku-buku tentang kreatifitas. Ada dosen yang ingin membuat diktat-diktat kuliah maupun novel laris. Ada seorang sekretaris senior yang ingin sekali membukukan kisah cintanya yang begitu menghebohkan.

Problem lain –yang sering menghentikan minat penyibuk untuk mulai menulis– adalah bayangan ruwetnya proses penulisan dan penerbitan buku. Bagaimana dan dari mana mulai menulis? Dari mana ide didapat? Tema apa yang menarik? Bagaimana mengorganisasikan gagasan? Bagaimana membuat tulisan yang enak dibaca? Bagaimana mengatasi kemacetan saat menulis? Siapa yang bisa membantu menulis? Penerbit mana yang mau menerbitkan? Siapa yang mau membeli buku saya? Dan masih banyak lagi.

Seorang profesional yang pernah saya wawancarai mengakui bahwa teknik menulis itu bisa dipelajari dan dilatih. Anehnya, ia juga “memvonis” bahwa dirinya benar-benar tidak memiliki bakat menulis. Akibat vonis diri itu, ia merasa ragu untuk belajar menulis, sungguh pun ia sangat ingin bisa membuat buku tentang prospek profesinya. Nah, tampaknya persoalan menulis buku bukan melulu soal teknis, tapi juga soal-soal konstruksi mental..

Buku-buku laris yang ditulis oleh orang-orang super sibuk semacam Hermawan Kartajaya, Renald Kasali, Aa Gym, Bondan Winarno, Andrie Wongso, Ary Ginanjar, Andrias Harefa, dll, sering begitu menggoda dan memprovokasi orang-orang yang saya singgung di atas itu. Tapi ketika ide-ide hendak dituliskan menjadi naskah buku, tiba-tiba muncul banyak hambatan yang sulit mereka pecahkan sendiri. Si penjual sukses itu misalnya, mengaku sulit konsentrasi menulis akibat sering menerima telepon dari pelangganya. Sementara si direktur mengaku urusan rapat dengan manajemen dan mitra bisnis seperti tak ada habisnya. Alhasil, ruang-ruang bebas untuk menuliskan gagasan serasa hampir mustahil didapat.

Dari pengalaman saya, proses menulis buku itu tidak serumit atau sesulit yang dibayangkan banyak orang. Saya setuju dengan Arswendo Atmowiloto yang mengatakan menulis atau mengarang itu gampang. Memang begitulah kenyataannnya dan semua orang bisa membuat buku laris di pasaran. Syaratnya hanyalah:

  • Tahu teknik-teknik yang paling efektif untuk menulis buku.
  • Mau menyisihkan waktu dan disiplin menulis.
  • Dapat menemukan topik-topik yang dibutuhkan atau diminati masyarakat.
  • Memiliki motivasi yang kuat untuk menulis buku.
  • Dan punya sense of marketing.

Soal teknik-teknik menulis, bagaimana menemukan topik yang bagus dan mengatur waktu menulis, kita akan bahas pada bab-bab berikutnya. Soal motivasi, nah… ini ada sederet penulis buku dari luar maupun dalam negeri yang patut diacungi jempol. Bukankah mengagumkan bila Madonna, si mega bintang yang super sibuk itu, mampu menulis buku anak-anak yang laris manis berjudul The English Roses dan Mr. Peabody’s Apples. Simak kisah seorang sopir taksi dari Inggris bernama Mus Mustafa, yang sukses dengan buku In A Year of A London Cabbie: Everyone Has A Story.

Jangan lupakan, para pemain bola paling top di dunia seperti Maradona, Pele, Ronaldo, David Beckam, dll, membukukan kisah-kisahnya. Dan yang lebih heboh lagi, Joseph Ratzinger alias Paus Benediktus XVI, baru saja dikukuhkan sebagai penulis best seller. Pasalnya, sekitar tiga lusin judul buku yang ditulisnya 25 tahun lalu, edisi cetak ulangnya laris manis di pasar. Hanya dalam waktu dua hari, 300.000 kopi terjual habis dan 300.000 cetak ulang berikutnya sudah dipesan. Salah satu judul yang laris manis adalah Salt of the Earth.

Dari negeri sendiri, banyak kisah-kisah penulis muda yang mengundang decak kagum. Simak kisah Rachmania Arunita pengarang novel Eiffel I’m in Love, yang menyelesaikan novel best seller itu saat ia masih duduk di bangku SMU. Lihat prestasi si gadis cilik Sri Izzati, yang berhasil menyelesaikan novel setebal 145 halaman berjudul Powerful Girls saat usianya baru delapan tahun. Ada pula Natasha Alesandra yang meluncurkan novel The Adventure of Molly, sebuah novel berbahasa Inggris setebal 60 halaman, yang juga ditulis saat usianya masih delapan tahun.  Ada si Abdurahman Fais, penyair cilik yang juga telah membukukan puisi-puisinya pada usia delapan tahun. Dan yang baru saja saya wawancarai, Arifia Sekar Seroja, cerpenis cilik yang berhasil membukukan kumpulan cerpennya berjudul Gigi Kelinci pada usia 9 tahun. Luar biasa mereka itu!

Dari generasi sepuh, ada Achdiat K. Mihardja (penulis novel klasik Atheis) yang masih mampu menulis novel berjudul Manifesto Khalifatullah pada usia 94 tahun. Dari kalangan akademis, ada Profesor Dr. F.G. Winarno, yang pada usia 64 tahun berhasil menulis 50 judul buku hanya dalam waktu 4 bulan (2,4 hari per judul). Ada pula Mashuri (penulis buku-buku paranormal) yang pada usia 40-an mampu menghasilkan 83 judul buku hanya dalam waktu 92 bulan (33 hari per judul). Begitu mudahnya menulis buku!

Simak pula nama para penulis buku best seller yang saya singgung sebelumnya. Mengherankan, orang-orang sibuk seperti Hermawan Kartajaya, Renald Kasali, atau Aa Gym, itu masih mampu menulis buku-buku bagus dan disukai pembaca. Dari kaca mata saya, rahasianya terletak pada personal branding mereka, pilihan topiknya, serta pilihan teknik penulisan yang tepat. Alhasil, kesibukan bukan lagi menjadi penghalang utama bagi para penulis best seller tersebut.

Tampaknya apa pun profesi, pendidikan, latar belakang, bahkan usia muda sekalipun,  tidak menghalangi seseorang untuk menulis buku yang digemari pembaca. Selalu saja ada sisi-sisi kemanusiaan atau hal unik lainnya yang bisa dibagikan kepada orang lain. Buku adalah jembatan untuk berbagi secara lebih utuh. Itulah yang sudah ditunjukkan oleh contoh-contoh mengagumkan di atas.

Nah, untuk mewujudkan impian menulis buku, pertama-tama kita harus menyingkirkan aral mental berupa anggapan bahwa menulis buku itu sulit. Singkirkan pula aral mental bahwa kita butuh bakat khusus untuk menulis. Hilangkan anggapan bahwa ide bagus itu sulit ditemukan. Sebaliknya, sejak awal kita harus yakin, semua orang punya bakat menulis. Kita pasti bisa mengatur waktu untuk menulis jika kita mau melakukannya. Kita juga bisa menggali ide dan banyak teknik untuk itu. Kita pun harus berani memutuskan dan mulai berlatih menulis secara disiplin.

Mengetahui teknik menggali ide, memilih topik atau tema yang menarik, mengatur waktu, membuat outline, tahu dari mana memulai, bisa memilih bentuk buku, serta mau berlatih, itu semua penting peranannya dalam menghasilkan buku-buku laris. Namun memiliki motivasi yang tinggi untuk menghasilkan buku best seller juga sangat penting peranannya dalam dunia penulisan buku.[edy zaqeus: http://rcmbb.wordpress.com/]

Tips:

  1. Yakinkan diri, asal tahu cara dan tekniknya yang cocok, menulis buku tidaklah sesulit yang dibayangkan.
  2. Yakinkan diri, semua orang pasti memiliki bahan berupa gagasan, pengalaman, kisah, imajinasi, dan  keahlian yang layak untuk ditulis menjadi buku.
  3. Miliki motivasi yang tinggi untuk mewujudkan buku yang anda impi-impikan.
  4. Jangan puas hanya menulis buku, tapi sejak awal miliki hasrat 100 persen untuk menghasilkan buku best seller.
  5. Jika bocah usia 8 tahun atau kakek usia 94 tahun mampu menulis buku, anda pun pasti mampu.

PENDAHULUAN

Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller

Kaver buku "Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller" edisi perdana

PENDAHULUAN

Berhasil menyusun sebuah buku yang laris di pasaran, jadi best seller, adalah impian setiap pengarang atau penulis. Popularitas, penghargaan, kepuasan batin, kebanggaan, dan keuntungan finansial adalah ganjarannya. Sekalipun di Indonesia, ganjaran dan penghargaan bagi penulis buku yang sukses belum seheboh di negara-negara maju, namun keberhasilan membuat buku best seller saja tetap mempunyai makna tersendiri. Tak heran jika hasrat untuk melahirkan buku-buku best seller terus membara di benak para penulis buku.

Di Indonesia di mana produksi buku setahunnya diperkirakan mencapai  7.000 judul, untuk dapat disebut best seller memang masih beragam ukurannya. Sebabnya antara lain; faktor minat baca yang dianggap belum tinggi, masih rendahnya daya serap pasar, jumlah cetak buku rendah (non fiksi 2.000-6.000 dan fiksi 5000-10.000 eksemplar), serta belum adanya data yang akurat mengenai angka-angka penjualan buku. Sebagian penerbit menganggap, kalau satu judul buku mengalami cetak ulang –tak peduli berapa banyak dicetak dan berapa lama habis terjual– itu sudah  diklaim best seller. Penerbit lainnya menganggap, sebuah buku dinyatakan best seller jika cetakan pertamanya (3.000-5.000 eksemplar) habis terjual dalam waktu kurang dari enam bulan. Ikapi sendiri kabarnya menetapkan standar best seller jika terjual lebih dari 5.000 eksemplar.

Jika dibandingkan dengan standar industri perbukuan di negara-negara maju, standar best seller di Indonesia yang 5.000 eksemplar itu jelas tampak biasa saja. Tapi harus diakui, dengan tingkat minat baca yang ada, standar best seller itu sudah cukup memadai. Apalagi, perkembangan penjualan buku lima tahun terakhir ini semakin bagus sehingga muncul angka-angka penjualan buku fiksi dan non fiksi yang sangat fantastis.

Sebut misalnya judul-judul non fiksi yang layak disebut mega best seller, seperti ESQ (Ary Ginanjar) yang terjual lebih dari 250.000 eksemplar, Jakarta Undercover (Moamar Emka) 200.000 eksemplar, dan Aa Gym Apa Adanya (Aa Gym) 140.000 eksemplar. Berikutnya, Kupinang Engkau dengan Hamdalah dan Mencapai Pernikahan Barakah (Muhammad Fauzil Adhim), Kisah-Kisah Teladan untuk Keluarga (Dr Mulyanto), serta terjemahan Rich Dad Poor Dad (Robert T. Kiyosaki), masing-masing telah terjual di atas 100.000 eksemplar.

Sementara untuk fiksi, setahun terakhir muncul angka penjualan fantastis dari novel teenlit/chicklit seperti Fairish (Esti Kinasih) yang terjual lebih dari 66.000 eksemplar, Delaova 60.000 (Dyan Nuranindya) eksemplar, dan Me Versus High Wheels (Maria Ardelia) 40.000 eksemplar. Sukses pengarang-pengarang novel perempuan yang terakhir tadi menyamai sukses Supernova (Dewi Lestari) dan Saman (Ayu Utami).

Sukses sejumlah penulis fiksi dan non fiksi tadi, tak pelak mengundang rasa penasaran penulis-penulis lainnya. Apa sih rahasianya?

Buku sederhana ini semula ditulis untuk memberikan kita-kiat praktis dan semangat kepada para profesional yang hendak menulis buku. Saya memang sering menjumpai mereka yang punya hasrat besar untuk menulis buku, tapi selalu gagal mewujudkan impiannya. Alasan macam-macam; ya kesibukan, sulit mengatur waktu, susah mencari ide, tidak tahu memulai dari mana, dan masih banyak lagi. Nah, dalam proses editing naskah buku ini, muncul feedback agar juga dibahas mengenai aspek-apsek yang membuat sebuah buku menjadi best seller. Dari semula yang fokus pada sisi how to menulis buku, lalu berkembang menjadi how to menulis buku best seller.

Bukan hal mudah mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan sebuah buku bisa menjadi best seller atau tidak. Tapi dengan standar best seller Ikapi di atas, berikut pengalaman sebagai konsultan editorial dan telah menghasilkan dua buku best seller, serta hasil pengamatan terhadap tren maupun diskusi mendalam dengan sejumlah editor, penulis best seller, dan penerbit sukses, saya pun memberanikan diri menulis buku ini. Maka lahirlah buku Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller, yang setidaknya akan fokus pada tiga hal, yaitu motivasi bagi para profesional untuk menulis buku, strategi atau teknik menulis yang cocok dan efektif untuk mereka, serta kisi-kisi dan kiat-kiat untuk menghasilkan buku best seller.

Buku ini membatasi diri pada pembahasan tentang motivasi menulis, kiat memproduksi ide kreatif, gaya penulisan, pemilihan tema, format buku, teknik penggalian bahan, dan teknik formulasi judul yang diyakini bakal mampu menghasilkan buku laris. Dari sisi strategi dan teknik penulisan buku, saya yakin resep dan kiat-kiat yang saya ungkapkan di buku ini akan cukup cespleng untuk mengatasi hambatan menulis, khususnya penulisan buku-buku non fiksi. Tetapi untuk menjadikannya benar-benar best seller, diakui masih banyak faktor terlibat dan berpengaruh di dalamnya. Semisal menyangkut usaha-usaha ekstra yang dilakukan penulis sendiri dan pilihan strategi pemasaran oleh penerbit, yang memang tidak dibahas di buku ini.

Tujuan penulisan buku ini cukup sederhana. Pertama, saya ingin mengajak siapa pun yang akan atau sedang menulis buku, supaya sejak awal sudah berani mengagas dan menargetkan menulis buku best seller. Mengapa demikian? Alasannya adalah kaitan antara motivasi dan produktivitas dalam menulis. Jika kita mampu menghasilkan buku best seller, maka motivasi menulis akan jauh lebih besar, dan hal ini akan berpengaruh pada produktivitas kita dalam menulis karya-karya berikutnya. Sebaliknya jika buku kita tidak diapresiasi orang atau gagal di pasaran, jelas motivasi menulis akan merosot dan produktivitas pun terimbas. Ini berkait dengan tujuan berikutnya.

Kedua, saya ingin mengajak semakin banyak orang berlomba-lomba menulis buku. Saat menulis buku ini, impian saya demikian; taruhlah dalam setahun buku saya dibaca oleh 5.000 orang yang kemudian tergerak menulis buku best seller. Maka dalam setahun itu pula, bolehlah saya bermimpi akan muncul minimal 5.000 judul buku baru. Tahun berikutnya, taruhlah ke-5.000 judul buku baru itu sanggup menginsipirasi dua orang di sekeliling para penulisnya untuk menulis buku laris, maka tahun itu juga mungkin akan lahir 10.000 judul buku baru. Fantastik! Betapa kayanya bumi Indonesia tercinta ini dengan penulis-penulis baru. Industri perbukuan pun akan jauh lebih cerah dibanding yang sudah-sudah. Dan ini pasti ada dampaknya bagi perkembangan SDM dan kebangkitan Indonesia.

Nah, ayo ambil bagian dalam kerja besar bersama yang luar biasa ini. MARI MEMBUKUKAN REPUBLIK INDONESIA!

Edy Zaqeus

KATA PENGANTAR JENNIE S. BEV

Jennie S. Bev

Kaver buku "Rahasia Sukses Terbesar" karya Jennie S. Bev

KATA PENGANTAR

Dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta orang dan angka melek huruf (literacy) yang tinggi, yaitu sekitar 86%, Indonesia semestinya merupakan ladang penerbitan buku yang sangat subur. Sayangnya, profesi penulis seringkali dipandang sebelah mata karena kurang menjanjikan penghasilan tetap, serta ada beberapa miskonsepsi tentang kegiatan tulis-menulis yang kurang memberikan manfaat bagi perkembangan perbukuan di Indonesia.

Sebagai perbandingan, di Amerika Serikat dalam satu tahun terbit sekitar 75 ribu buku. Di Indonesia, kelihatannya hanya sekitar 10% dari jumlah ini atau bahkan kurang (data soal ini masih diperdebatkan). Padahal, antara Indonesia dan Amerika jumlah penduduknya bisa dibilang sama-sama melampaui 200 juta (data 2004: penduduk AS 294 juta dan Indonesia 238 juta). Tentu saja ada variabel lain yang menyebabkan angka seperti ini, antara lain rendahnya daya beli dan kultur senang membaca yang semestinya lebih digiatkan lagi di Indonesia.

Selain itu, ada beberapa miskonsepsi mengenai profesi penulis. Seperti, adanya mitos bahwa kegiatan menulis itu sulit sekali dan memerlukan bakat yang luar biasa (untuk buku-buku genre tertentu). Ada lagi mitos bahwa seseorang hanya pantas menjadi penulis kalau sudah mencapai tahap tertentu dalam karir (untuk buku-buku profesi dan akademis). Bahkan ada yang membayangkan bahwa menulis adalah suatu pekerjaan super istimewa yang hanya pantas dijalankan oleh orang-orang eksentrik super kreatif (untuk buku-buku literatur), atau orang-orang idealis yang gemar berpetualang (untuk buku-buku reportase).

Apa pun miskonsepsi yang menghambat profesi tulis-menulis di Indonesia, sudah saatnya kita melihat dengan jernih seperti apa sebenarnya proses penulisan buku yang efektif dan efisien. Siapa pun Anda, sepanjang Anda bisa baca tulis, Anda pasti bisa menjadi penulis.  Ingat “there are all kinds of writers and all kinds of readers”. Dengan demikian, kita bisa dengan jelas melihat potensi dari profesi yang sangat menjanjikan ini.

“Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller” secara gamblang memberikan tips, tricks dan bahkan tools yang mungkin tidak terpikirkan oleh pembaca umumnya, supaya bisa menulis ala profesional dan menerbitkan buku best seller yang luar biasa. Jalur-jalur penerbitan yang sebelumnya mungkin kurang diperhitungkan juga dibahas dengan sangat gamblang, dalam satu-satunya buku berbahasa Indonesia, yang mengajarkan bagaimana setiap orang yang bisa baca tulis mempunyai potensi untuk menjadi penulis best seller.

Sebagai seorang penulis perantauan yang telah membedah lebih dari 1.200 buku, menerbitkan 20 buku, dan lebih dari 900 artikel di mancanegara, saya sangat terkesan dengan resourcefulness penulis Edy Zaqeus dalam memaparkan rahasia sukses penulis-penulis best seller, serta tahap-tahap penulisan yang dapat dengan mudah dijalankan oleh penulis pemula. Kunci dari keberhasilan buku ini dalam membangunkan the sleeping writer in all of us adalah “best seller mindset” yang sudah mendarah daging di dalam diri Edy Zaqeus, seorang best-selling author.

Jika Anda masih termakan oleh mitos-mitos soal menulis dan menjadi penulis, sudah saatnya Anda membuang hal-hal tersebut. Saya sendiri adalah saksi hidup bahwa menulis itu gampang dan mencari nafkah dari menulis tidak kalah hasilnya dibandingkan dengan profesi lainnya. Kalau Edy, saya, dan banyak penulis lainnya bisa hidup nyaman dari menulis, mengapa Anda tidak? Intinya hanya satu: membangunkan sang penulis yang sedang tidur di dalam diri kita semua.

Salam,

Jennie S. Bev

San Francisco Bay Area, California, USA

*) Endorsement ini ditulis oleh Jennie S. Bev, seorang penulis, konsultan, educator, entrepreneur dan finalis 2003 EPPIE Award (USA) for excellence in electronic publishing under non-fiction how-to category. Baca perjuangan dan prestasinya di JennieSBev.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.